TARAKAN — Sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meluas dan mulai melumpuhkan sektor transportasi. Tidak hanya mengepung wilayah daratan, pekatnya asap kini telah menyeberang hingga ke perairan Kalimantan Utara (Kaltara) dan mengancam keselamatan aktivitas pelayaran.
Kondisi ini patut diwaspadai para pengemudi kapal dan nelayan mengingat jarak pandang (visibility) di perairan laut dapat merosot tajam secara mendadak, terutama saat laju angin mendadak melemah.
Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, membeberkan bahwa jangkauan sebaran asap karhutla ini terbilang sangat masif. Bahkan sepekan lalu, pergerakan asap sempat terdeteksi menyeberang hingga perairan dan pulau-pulau di wilayah Filipina yang berbatasan dengan Indonesia.
“Jarak pandang 2 kilometer di laut sebenarnya sudah cukup mengganggu pelayaran, apalagi kalau turun sampai 1 kilometer,” tegas Sulam, Senin (7/9/2026).
Sulam menjelaskan bahwa konsentrasi asap di permukaan laut sangat bergantung pada pergerakan sirkulasi udara dan intensitas sinar matahari. Saat angin tenang, kumpulan asap akan tertahan di atas permukaan air dan memangkas jarak pandang secara drastis.
Sebaliknya, penyinaran matahari yang memanaskan permukaan air laut dapat memicu sirkulasi termal. Proses ini membantu mengangkat partikel asap ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi sehingga jarak pandang di permukaan perlahan membaik.
Meski demikian, BMKG mengimbau seluruh instansi maritim, pengelola jasa transportasi laut, hingga nelayan lokal untuk tetap meningkatkan kewaspadaan ekstra serta melengkapi armada dengan navigasi memadai saat melintasi jalur perairan Kaltara. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co