TARAKAN — Sempat menghirup udara segar usai diguyur hujan, warga Kota Tarakan kini harus kembali berhadapan dengan ancaman kabut asap. Udara bersih tak bertahan lama setelah pergerakan angin membawa asap kiriman dari ratusan titik panas (hotspot) yang membakar wilayah selatan Kalimantan.Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, menjelaskan bahwa jarak pandang di Tarakan sempat membaik hingga 8 kilometer pascahujan.
Namun, tingginya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan mengubah situasi dengan cepat.“Di Kaltara jumlah hotspot kemarin mungkin sekitar 30, sementara di Kaltim, Kalsel, dan Kalteng sudah ratusan. Angin dominan bergerak dari selatan ke utara, sehingga asap dari wilayah tersebut terbawa ke Kaltara, termasuk Tarakan,” terang Sulam, Jumat (18/9/2026).
Sulam menegaskan bahwa pekatnya kabut asap di Tarakan bukan dipicu oleh karhutla di wilayah sekitar seperti Bulungan. Meski Bulungan sempat mencatatkan titik kebakaran, dampaknya tergolong minim dan arah anginnya tidak mengarah ke Tarakan.Puncak musim kemarau di wilayah tengah dan selatan Kalimantan yang berlangsung hingga akhir September diprediksi masih memicu potensi asap susulan. BMKG Tarakan pun memperketat pemantauan kualitas udara dan jarak pandang secara berkala.Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penurunan kualitas udara yang sewaktu-waktu bisa memburuk tergantung pada perubahan kecepatan serta arah angin. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co