SAMPIT– Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi saat ini mulai memicu kekhawatiran terkait dampaknya terhadap stabilitas ekonomi daerah. Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini dalam posisi siaga mewaspadai potensi kenaikan harga berbagai bahan pokok di pasaran sebagai dampak berantai dari meningkatnya biaya transportasi dan distribusi logistik.
Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kotim, Umar Kaderi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM merupakan variabel sensitif yang memengaruhi biaya hidup masyarakat secara luas. Menurutnya, sektor pangan dan jasa transportasi akan menjadi yang paling pertama merasakan tekanan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi daerah. Umar menjelaskan bahwa komoditas yang didatangkan dari luar pulau atau luar daerah memiliki risiko kenaikan harga lebih cepat karena sangat bergantung pada biaya distribusi.
Biaya transportasi dan upah angkut yang melonjak secara otomatis akan terakumulasi pada harga jual barang ketika sampai di tangan konsumen di Sampit. Kondisi ini tidak hanya menekan daya beli masyarakat, tetapi juga berdampak pada struktur perencanaan pembangunan daerah. Umar menyebutkan bahwa pagu anggaran yang telah disusun sebelumnya kini harus menghadapi penyesuaian nilai, sebab daya beli anggaran tersebut menurun seiring dengan kenaikan harga komponen barang dan jasa di lapangan.
Meski menghadapi tantangan mekanisme pasar global yang sulit dikendalikan, Pemerintah Kabupaten Kotim memastikan akan tetap berupaya menjaga stabilitas harga melalui pengawasan ketat dan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Pemantauan di pasar-pasar tradisional seperti Pasar PPM Sampit terus diintensifkan untuk memastikan ketersediaan pasokan tetap aman dan mencegah adanya spekulasi harga yang tidak wajar di tingkat pedagang.
Umar mengakui bahwa pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam mengintervensi harga yang sepenuhnya bergantung pada kondisi global, sehingga sulit diprediksi kapan situasi akan kembali normal. Namun, ia berharap dampak kenaikan ini tidak berlangsung lama dan tidak memberikan tekanan yang terlalu signifikan bagi masyarakat menengah ke bawah. Upaya koordinasi terus dilakukan agar kenaikan harga di Kotim tetap berada dalam batas wajar sehingga kebutuhan pokok harian warga tetap terpenuhi dengan baik. (*)
Editor : Indra Zakaria