Terjang Sungai dan Jalan Kaki 4 Kilometer: Perjuangan Tim Gabungan Padamkan Karhutla di Kalteng

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:30 WIB
Kebakaran Lahan di seberang Desa Batu Kotam, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, baru-baru tadi. (istimewa/BPBD)
Kebakaran Lahan di seberang Desa Batu Kotam, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, baru-baru tadi. (istimewa/BPBD)
 

LAMANDAU — Amukan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah kini menjalar hingga ke Kabupaten Lamandau. Sekitar 10 hektare lahan vegetasi semak belukar di seberang Desa Batu Kotam, Kecamatan Bulik, dilaporkan ludes dilalap si jago merah.

Di balik upaya penjinakan api tersebut, tersimpan cerita perjuangan pantang menyerah dari tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan. Mereka harus menembus medan ekstrem dan terisolasi demi memastikan kobaran api tidak makin membesar.

Kepala Pelaksana BPBD Lamandau, Hendikel, membeberkan alotnya perjuangan para petugas di lapangan yang tak bisa mengandalkan kendaraan operasional darat.

"Tim di lapangan terus berkoordinasi untuk langkah penanganan terbaik, mengingat medan menuju titik api sangat sulit dan tidak bisa dijangkau oleh kendaraan darat. Harus menggunakan perahu untuk menyeberang dan jalan kaki lagi sekitar 4 km," ungkap Hendikel.

Kalteng Tetapkan Siaga Darurat Hingga Oktober

Kondisi ekstrem di Lamandau hanyalah satu dari sekian banyak potret perjuangan penanganan karhutla di Tanah Tambun Bungai. Mengingat ancaman kebakaran lahan yang masih mengintai di berbagai daerah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) menegaskan komitmennya dengan mempertahankan Status Siaga Darurat Karhutla hingga 31 Oktober 2026.

Untuk menahan laju amukan api yang terus mengancam pemukiman dan kualitas udara, pengerahan sumber daya manusia dan armada tempur udara dilakukan secara masif.

Sebanyak 10.700 personel gabungan telah disiagakan di berbagai titik rawan. Tak hanya jalur darat, penanganan juga didukung penuh dari udara melalui tiga armada helikopter water bombing serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang terus digencarkan secara maksimal demi memicu hujan buatan di wilayah terdampak. (*)

Editor : Indra Zakaria
kalteng karhutla