SAMPIT – Perubahan sikap anak yang mendadak tak boleh lagi dianggap sebagai gejolak emosi masa remaja biasa. Densus 88 Antiteror Polri mengingatkan para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya doktrin radikal dan paham kekerasan yang kini merayap masuk ke ruang-ruang pribadi anak melalui media sosial serta game online.
Komandan Tim Investigasi dan Sosialisasi (Idensos) serta Pencegahan Densus 88 Antiteror, Iptu Ganjar Satrio, membeberkan sejumlah indikator utama yang patut dicurigai ketika seorang anak mulai terpengaruh pemahaman berbahaya tersebut. Perubahan paling mencolok biasanya dimulai dari pola interaksi sosialnya.
"Yang pertama, anak akan keluar dari circle permainannya. Yang tadinya dia berteman dengan orang banyak, dengan teman-teman sebaya, dia akan asyik kepada gadget-nya saja. Dia akan introvert," tegas Iptu Ganjar Satrio saat memberikan penjelasan di Sampit.
Menjadi Agresif dan Membentengi Barang Pribadi
Tidak hanya menarik diri dari pergaulan dunia nyata, paparan konten kekerasan dalam ruang digital—seperti di dalam fitur obrolan game online—juga berpotensi mengubah perilaku anak menjadi sangat agresif, bahkan kepada orang tua mereka sendiri. "Yang kedua, anak akan melakukan ujaran kebencian secara brutal. Kita tahu sendiri kalau main game online seperti itu. Jadi dia akan cenderung melawan orang tua secara brutal," jelas Ganjar.
Ciri khas lain yang wajib dicermati adalah sikap protektif yang berlebihan terhadap telepon seluler (handphone). Anak yang terpengaruh doktrin dari grup percakapan tertutup akan berusaha keras menyembunyikan aktivitas digitalnya dari pantauan keluarga.
"Anak-anak akan menganggap barang milik pribadinya adalah barang-barang yang sangat rahasia. Dia akan defend dengan barang pribadinya. Contohnya HP, mau dilihat orang tuanya, dia akan mempertahankan," ujarnya.
Iptu Ganjar mengungkapkan bahwa latar belakang keluarga dan pengalaman sosial anak sangat menentukan kerentanan mereka terhadap doktrinasi paham kekerasan. Anak yang kurang mendapat perhatian di rumah atau pernah menjadi korban perundungan (bullying) terbukti jauh lebih mudah terpengaruh. "Dan yang paling menonjol, anak tersebut sering dan pernah menjadi korban bully," ungkap Ganjar.
Melihat fenomena ini, Densus 88 menekankan bahwa pembentukan karakter anak tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada instansi sekolah semata. Kehadiran dan kehangatan dalam keluarga memegang peranan paling vital untuk membentengi anak dari pengaruh buruk luar. "Ini perlunya keluarga, peran keluarga terbawah ini untuk mendidik anaknya. Rata-rata anak-anak yang terpapar ini kurang kasih sayang. Jadi tangki kasih sayangnya enggak ada," tambahnya.
Ganjar mengimbau para orang tua yang melihat tanda-tanda tersebut untuk tidak langsung menghakimi atau menghukum anak secara sepihak. Anak yang teridentifikasi terpapar harus dipandang sebagai korban yang membutuhkan pendampingan serta intervensi tepat agar bisa kembali ke jalan yang benar. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : Kalteng Pos