Karhutla Kalimantan "Ekspor" Asap ke Negara Tetangga: Sekolah di Malaysia Tutup, Singapura Siaga I

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 11:30 WIB
Kabut asap ganggu jarak pandang.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Kabut asap ganggu jarak pandang.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan kini resmi berkembang menjadi isu lintas negara (transboundary pollution). Pergerakan angin yang membawa kepulan asap pekat ke arah tenggara dan barat daya mulai menerobos wilayah kedaulatan Malaysia hingga mengancam Singapura.

Di Sarawak, Malaysia, paparan asap tebal dari Kalimantan dilaporkan telah menerjang kawasan Tebedu. Akibat melorotnya kualitas udara secara drastis, sedikitnya enam sekolah di wilayah tersebut terpaksa meliburkan aktivitas belajar mengajar secara tatap muka.

Singapura Tingkatkan Status Kewaspadaan

Sementara itu, Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) mulai memperketat pemantauan atas potensi invasi kabut asap dari Indonesia. Pola angin Musim Kemarau memicu pergerakan asap dari wilayah Kalimantan dan Sumatra langsung menuju wilayah Semenanjung.

"Kondisi kering diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang. Dengan adanya angin yang bertiup dari arah tenggara atau barat daya, Singapura berpotensi mengalami kabut asap jika kebakaran tersebut semakin intensif," tulis rilis resmi NEA, Kamis (20/8/2026).

Di dalam negeri, kabut asap karhutla telah mengganggu ruang gerak warga di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Selatan. Selain pembatasan aktivitas luar ruangan dan pembagian masker gratis, gangguan operasional penerbangan akibat terbatasnya jarak pandang (visibility) mulai melumpuhkan sejumlah rute penerbangan.

Menanggapi tekanan krisis yang makin membesar, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meluncurkan operasi pemadaman skala besar lewat jalur darat dan udara yakni Operasi Modifikasi Cuaca (OMC): Digelar sebanyak 17 kali dalam kurun 169 hari dengan total 291 sorti penerbangan. Lalu mengerahkan 10 pesawat patroli untuk mendeteksi sebaran titik panas (hotspot). Dan menerjunkan 27 helikopter water bombing untuk mengguyur titik api di lokasi terisolasi, didukung 3 pesawat khusus modifikasi cuaca.

Pemerintah Indonesia kini berada di bawah tekanan besar untuk memastikan efektivitas penanganan karhutla di lapangan guna mencegah timbulnya titik api baru serta menekan dampak diplomatik akibat paparan asap yang kian meluas. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kalteng