SAMPIT — Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur kini menghadapi tantangan berat di lapangan. Selain kemunculan titik api baru yang terus bertambah, para petugas di lapangan dihadapkan pada masalah krisis air akibat cadangan sumber air yang mulai mengering karena kemarau panjang.
Situasi pelik tersebut diungkapkan secara langsung oleh Bupati Kotim Halikinnor ketika meninjau sejumlah lokasi karhutla di sekitar wilayah Sampit.
"Kami menemukan sekitar 12 titik api baru. Bahkan lokasi yang sebelumnya sudah ditangani kembali memunculkan api di tempat berbeda," ujar Halikinnor saat berada di lokasi karhutla.
Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman harus dilakukan berulang-ulang tanpa henti. Petugas gabungan dari unsur Pemkab Kotim, TNI, Polri, BPBD, serta instansi terkait terus berjibaku siang dan malam, khususnya untuk mengamankan area yang mendekati permukiman warga.
Kendati demikian, situasi di lapangan semakin sulit dikendalikan akibat cuaca panas terik yang disertai tiupan angin kencang. Sejumlah embung serta sumur bor yang biasanya diandalkan untuk menyuplai air kini mulai mengering, sehingga mempersempit ruang gerak kendaraan pemadam dalam mencari pasokan air terdekat.
"Cadangan air yang bisa kami manfaatkan sekarang tinggal beberapa lokasi. Musim panas tahun ini membuat air sangat cepat surut, sehingga persoalan ketersediaan sumber air harus menjadi perhatian kami untuk menghadapi kemarau berikutnya," jelasnya.
Untuk menyiasati keterbatasan pasokan air tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotim mengerahkan armada tangki dari berbagai organisasi perangkat daerah guna memasok air bersih langsung ke unit-unit pemadam yang sedang beroperasi.
Sementara itu, dampak buruk dari kepulan asap karhutla telah mulai mengganggu kesehatan dan aktivitas warga. Sebagai langkah antisipasi demi melindungi keselamatan anak-anak, Pemkab Kotim memutuskan untuk memberlakukan kebijakan pembelajaran dari rumah bagi para pelajar sekolah.
"Anak-anak tetap mengikuti pembelajaran, hanya saja sementara dilakukan dari rumah dengan pendampingan guru. Kondisi udara yang kurang sehat membuat kami harus mengutamakan keselamatan mereka," tambah Halikinnor.
Masyarakat umum juga diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta mengenakan alat pelindung diri jika terpaksa beraktivitas di ruang terbuka. Di akhir peninjauannya, Bupati Kotim mengingatkan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar dari ancaman kebakaran.
"Jangan sampai masyarakat hanya menunggu petugas datang. Kalau melihat api yang masih kecil, segera lakukan penanganan dan laporkan agar tidak berkembang menjadi kebakaran besar," pungkasnya.
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co