Sungai Mentaya Dimasuki Air Laut, Ratusan Warga 3 Desa di Pulau Hanaut Terjebak Krisis Air Bersih

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:15 WIB
Penyaluran air bersih ke Pulau Hanaut.(BPBD)
Penyaluran air bersih ke Pulau Hanaut.(BPBD)

 

SAMPIT — Musim kemarau panjang yang merayapi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menebar ancaman nyata bagi warga pesisir. Di Kecamatan Pulau Hanaut, alur Sungai Mentaya yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat mendadak tak lagi bisa diandalkan. Menurunnya debit air tawar membuat gelombang air laut menerobos masuk ke hulu, mengubah rasa air sungai menjadi asin dan tak layak konsumsi.

Dampak kemarau ini menghantam keras warga di tiga desa tetangga, yakni Desa Serambut, Bantian, dan Babaung. Situasi kian pelik karena ketiga desa tersebut terisolasi di seberang sungai tanpa akses jalan darat yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Kondisi geografis ini membuat armada truk tangki penyuplai air bersih terhadang dan tak mampu menembus langsung ke teras rumah warga.

Menanggapi krisis yang makin menghimpit, Pemerintah Kabupaten Kotim bergerak meluncurkan pasokan darurat sebanyak 9.000 liter air bersih. Bantuan tersebut dikirimkan secara bertahap untuk menyambung hidup masyarakat di kawasan terdampak.

"Kami ingin memastikan bantuan air bersih benar-benar sampai kepada masyarakat yang saat ini mengalami kesulitan mendapatkan air," ujar Wakil Bupati Kotim, Irawati.

Proses penyaluran air bersih ini menuntut kerja ekstra dan taktik khusus. Armada tangki dari Damkarmat Kotim serta Perumdam Tirta Mentaya terlebih dahulu menuangkan pasokan air ke tangki penampung berkapasitas 1.200 liter di dermaga transit. Dari titik tersebut, muatan air dipindahkan ke perahu-perahu kecil untuk diangkut menyusuri derasnya Sungai Mentaya menuju pemukiman warga.

"Pasokan dari kendaraan tangki harus kami tampung terlebih dahulu, setelah itu baru dibawa menggunakan perahu agar bisa mencapai tiga desa yang berada di seberang sungai," jelas Irawati.

Ia menerangkan bahwa fenomena berubahnya rasa air sungai menjadi asin murni dipicu oleh fenomena alam saat musim kering melanda dalam durasi yang panjang. Tanpa adanya guyuran hujan, pasokan air tawar menyusut drastis sehingga tak lagi mampu menahan laju intrusi air laut.

"Sumber air masyarakat sudah terdampak masuknya air laut sehingga rasanya menjadi asin dan tidak dapat digunakan untuk kebutuhan minum," tambahnya.

Melihat kondisi kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Pemkab Kotim berjanji tidak akan membiarkan warga berjuang sendirian. Penyaluran air bersih lewat jalur sungai ini dipastikan terus bergulir secara berkala hingga sumber-sumber air tawar milik warga kembali pulih.

"Selama kemarau berlangsung, pemerintah akan berupaya menjaga kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi, terutama mereka yang sudah kesulitan mendapatkan sumber air yang layak," tegas Irawati. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
sungai mentaya