Terjebak Kepungan Asap Karhutla Sampit, Induk Orangutan Ditemukan Dekap Erat Anaknya di Atas Pohon

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 08:58 WIB
Orangutan induk dan anak dievakuasi usai terjebak.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Orangutan induk dan anak dievakuasi usai terjebak.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT — Proses evakuasi dramatis mewarnai penyelamatan satwa dilindungi di kawasan Hutan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (2/9/2026) malam. Seekor induk orangutan ditemukan tengah memeluk erat anaknya di atas pohon yang mengering di tengah kepungan asap dan lahan gambut yang terbakar.

Keberadaan primata tersebut pertama kali terendus oleh personel TNI yang tengah melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Jalan Sawit Raya.

"Pada hari Rabu tanggal 2 September, sekitar pukul 11.00 siang kami mendapat laporan dari anggota TNI yang sedang melakukan patroli karhutla. Dilaporkan ada satu individu orangutan yang terjebak di areal bekas kebakaran," kata Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah.

Tim gabungan dari BKSDA Seksi Konservasi Wilayah II Pangkalan Bun dan Orangutan Foundation International (OFI) bergerak cepat menuju lokasi. Namun, saat proses penanganan di lapangan, jumlah satwa yang terjebak ternyata bukan satu individu.

"Malam hari ini alhamdulillah ternyata bukan satu individu, tapi dua individu orangutan yang berhasil dilakukan kegiatan rescue," ujar Muriansyah.  Induk orangutan yang diperkirakan berusia 20 tahun itu kemudian diberi nama Raya, sementara anaknya yang berusia satu tahun dinamai Rayu. Keduanya bertahan di atas pohon karena tanah gambut di bawah mereka masih membara dan mengepulkan asap.

Keputusan melancarkan tindakan penyelamatan pada malam hari diambil guna mengantisipasi satwa tersebut berpindah tempat dan makin sulit dilacak di area hutan yang hangus.

"Kalau misalkan kita menunggu sampai besok, dikhawatirkan pagi nanti sebelum kita tiba di sini orangutan sudah bergerak. Sangat sulit menemukan orangutan dengan kondisi hutan terbakar seperti ini," ungkapnya.  Proses pembiusan berjalan dramatis di tengah keterbatasan cahaya malam dan bahaya pijaran api di sekitar lokasi. Petugas harus ekstra hati-hati menembakkan bius agar tidak mengenai Rayu yang terus mendekap dada sang induk.

"Kondisi malam jadi pencahayaan agak kurang, tapi alhamdulillah dapat dilakukan kegiatan rescue. Areal tadi di lokasi itu masih ada kita temukan bara api. Jadi saat dilakukan kegiatan rescue, kita harus hati-hati dengan bara yang ada," lanjut Muriansyah.

Usai dibius dan berhasil dievakuasi, tim medis langsung melakukan pemeriksaan kesehatan awal. Kedua satwa tersebut dilaporkan dalam kondisi baik tanpa luka.  "Setelah kegiatan rescue ini akan dibawa ke kantor Pangkalan Bun. Dari hasil penilaian tim dokter nanti baru bisa diputuskan. Misalkan orangutannya sehat akan segera langsung dilepasliarkan," terang Muriansyah sembari menambahkan pilihan lokasi pelepasliaran antara Taman Nasional Tanjung Puting atau Suaka Margasatwa Lamandau.(*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
orangutan