Lebih dari Separuh Habitat Orang Utan Kalimantan Terdampak Karhutla

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 11:00 WIB
Orangutan induk dan anak dievakuasi usai terjebak.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Orangutan induk dan anak dievakuasi usai terjebak.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

PROKAL.CO- Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa wilayah Kalimantan sepanjang Juni hingga Agustus 2026 membawa dampak destruktif bagi kelangsungan hidup orang utan kalimantan. Satwa endemik terancam kehilangan ruang hidup, sumber pangan, hingga potensi kepunahan massal akibat ruang gerak yang semakin terbatas.

Hasil analisis spasial organisasi kampanye lingkungan Geopix mengungkapkan fakta mengejutkan: sebanyak 78,5 persen titik panas (hotspot) di Kalimantan berada tepat di kawasan habitat orang utan. Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, mengategorikan karhutla ini sebagai human-made disaster atau bencana buatan manusia yang memicu kerusakan rantai ekosistem secara beruntun.

“Karhutla bukan sesuatu yang alami, tetapi dibuat oleh manusia. Kalau pohonnya habis, tidak ada buah dan getah yang dimakan oleh orang utan, kita akan menyaksikan pembunuhan massal jika dampak karhutla ini tidak segera diatasi,” tegas Annisa.

60 Persen Luasan Habitat Hangus Terbakar

Selama periode pemantauan tiga bulan (Juni–Agustus 2026), Geopix mencatat total luasan habitat orang utan yang terbakar mencapai 25.812.600 hektar. Angka tersebut setara dengan 60,2 persen dari total luasan habitat orang utan kalimantan.

Kondisi terparah melanda wilayah ruang jelajah subspesies Pongo pygmaeus wurmbii, di mana lonjakan titik panas paling masif terjadi sepanjang bulan Agustus.

Kebakaran skala luas ini berisiko memfragmentasi habitat utuh menjadi kantong-kantong kecil yang terisolasi. Dampaknya, orang utan makin kesulitan mencari makan dan berpotensi terdesak keluar menuju permukiman warga—memicu konflik dengan manusia, risiko penangkapan liar, hingga perburuan.

Dampak karhutla pada primata ini tidak sebatas fisik. Secara genetik, orang utan berbagi 97 persen materi genetik yang sama dengan manusia, membuat mereka rentan mengalami trauma psikologis.

“Stres dan respons inflamasi tubuh orang utan terjadi akibat paparan polutan dan asap kebakaran, serta trauma menyaksikan habitatnya hilang. Mereka juga punya kondisi psikologis tertentu seperti manusia,” jelas Annisa. Masalah kian rumit karena mayoritas kawasan habitat satwa ini beririsan langsung dengan lahan konsesi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan industri kehutanan.

Geopix mendesak pemerintah dan pelaku usaha untuk menghentikan ekspansi yang memperparah tekanan habitat, serta meminta aparat penegak hukum menindak tegas seluruh pihak yang terlibat dalam pembakaran hutan—baik unsur kesengajaan maupun kelalaian. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
orangutan