Dikeroyok Kabut Asap Pekat, Sekolah Rakyat di Kotim Liburkan Siswa dan Evakuasi Asrama

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 12:00 WIB
Sekolah Rakyat Kotim dikepung karhutla dan diliburkan.(BPBD)
Sekolah Rakyat Kotim dikepung karhutla dan diliburkan.(BPBD)

SAMPIT — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin mengancam kawasan pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 01 di kawasan Wengga Metropolitan (WMP), Kecamatan Baamang, sempat terkepung kabut asap pekat hingga memicu langkah tanggap darurat dari pihak sekolah dan pemerintah daerah.

Demi keselamatan dan kesehatan peserta didik jenjang SMP dan SMA, kegiatan belajar mengajar tatap muka di gedung permanen tersebut dihentikan sementara. Para siswa yang memiliki keluarga diperbolehkan pulang, sedangkan siswa tanpa keluarga dievakuasi ke lokasi asrama SRT 55 di kawasan Islamic Center, Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 3.

Wakil Bupati Kotim, Irawati, menegaskan bahwa kebijakan evakuasi dan meliburkan siswa diambil saat kondisi paparan asap sudah masuk level berbahaya bagi pernapasan.

“Anak-anak diliburkan karena kemarin tempat mereka terkepung asap pekat. Jadi yang ada keluarga dia pulang, yang tidak ada keluarga dikumpulkan di sini,” ujar Irawati seusai meninjau lokasi sekolah rintisan.

Kepala Sekolah Rakyat Kotim, Nikkon Bhastari, menjelaskan bahwa kepungan asap mulai terasa sejak Kamis dan memuncak pada Sabtu dengan kondisi udara yang sangat pekat serta memicu rasa perih di mata dan tenggorokan.

Melihat situasi yang tak lagi kondusif, pihak sekolah menerbitkan surat resmi tentang Informasi Tanggap Darurat Bencana Sekolah Rakyat Kabupaten Kotim. Langkah penanganan pun dibagi berdasarkan kondisi lingkungan masing-masing siswa.

Siswa yang memiliki keluarga diizinkan dijemput oleh orang tua atau wali dengan syarat kondisi lingkungan rumah aman dari asap serta mudah mengakses fasilitas kesehatan. Sementara itu, empat siswa yang tidak memiliki keluarga di Kotim tetap tinggal di asrama rintisan Islamic Center dengan pengawasan ketat wali asrama serta jaminan pemenuhan kebutuhan dasar. Selama masa darurat ini, para guru dan wali asuh tetap memantau kondisi kesehatan serta kegiatan belajar siswa dari rumah melalui sambungan telepon.

Berdasarkan keputusan tanggap darurat, para siswa yang dipulangkan dijadwalkan kembali ke asrama sekolah pada Kamis (10/9/2026) pukul 11.00 WIB. Meski demikian, jadwal tersebut bersifat fleksibel dan sangat bergantung pada perkembangan kondisi udara serta rekomendasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim.

“Surat saya sampai Kamis. Jika di Rabu malam kondisi masih tidak memungkinkan, masa belajar dan berkegiatan dari rumah akan diperpanjang sampai hari Minggu,” tegas Nikkon. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kalteng