Langit Kalteng Ditelan Asap: Jarak Pandang di Bawah 500 Meter, Penerbangan Sampit dan Palangka Raya

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 07:50 WIB
Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara H Asan Sampit, yang menanti kepastian jadwal penerbangan, lantaran terdampak kabut asap karhutla, Jumat (18/9).(ian/radarsampit)
Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara H Asan Sampit, yang menanti kepastian jadwal penerbangan, lantaran terdampak kabut asap karhutla, Jumat (18/9).(ian/radarsampit)

 

PROKAL.CO- Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melumpuhkan aktivitas penerbangan komersial di Kalimantan Tengah. Penurunan jarak pandang hingga di bawah 500 meter memaksa sejumlah maskapai menunda bahkan membatalkan jadwal penerbangan demi keselamatan maskapai dan penumpang.

Di Bandara H Asan Sampit, penerbangan Nam Air IN 243 rute Sampit–Surabaya yang semula dijadwalkan terbang siang hari sempat mengalami delay berkali-kali hingga sore. Namun, pekatnya asap yang tak kunjung terurai membuat manajemen maskapai akhirnya membatalkan penerbangan tersebut.

"Tadi disampaikan oleh Sriwijaya Air Group terkait pembatalan jadwal penerbangan NAM Air IN 243 rute Sampit-Surabaya jam 17.25 WIB dialihkan menjadi tanggal 19 September 2026 jam 12.45 WIB dikarenakan dampak asap karhutla Kalimantan," kata Person In Charge (PIC) Civil Aviation Publication Team (CAPT) Bandara H Asan Sampit, Alfiansyah.

Berdasarkan data BMKG setempat, visibilitas di area landasan pacu bahkan sempat menginjak angka kritis 150 meter pada pagi hari. Selain Nam Air, status operasional maskapai lain seperti Wings Air dan Super Air Jet turut mengalami ketidakpastian akibat cuaca buruk ini.Dampak buruk asap karhutla juga melumpuhkan operasional Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, menegaskan bahwa keselamatan penerbangan sepenuhnya bergantung pada kondisi jarak pandang di lapangan."Kondisi penerbangan masih bergantung pada perkembangan cuaca dan jarak pandang. Karena itu, jadwal keberangkatan dapat berubah sewaktu-waktu," ujar I Made Darmawan.

Penundaan massal ini menyisakan penumpukan calon penumpang di ruang tunggu bandara selama berjam-jam. Salah seorang calon penumpang di Palangka Raya, Sisilia, mengaku pasrah setelah menunggu sejak pagi tanpa kepastian keberangkatan."Sinar matahari juga tidak kelihatan, tidak ada tanda-tanda cuaca untuk membaik. Cuaca kabut asap semakin pekat dan gelap. Penerbangan terdampak karhutla terpaksa dibatalkan karena kabut asap pekat menurunkan jarak pandang dan sangat mengancam keselamatan," tutur Sisilia.

Hal senada dirasakan Prayitno, calon penumpang Super Air Jet rute Jakarta–Sampit yang tertahan di Bandara Soekarno-Hatta. Ia menyebutkan bahwa ruang tunggu boarding sudah dipadati penumpang yang menanti kejelasan jadwal."Ruang tunggu untuk boarding kini penuh calon penumpang, tapi belum ada info terbaru kapan akan berangkat. Sementara ini statusnya masih delay," ungkap Prayitno.

Sementara itu, warga Sampit bernama Andi memilih untuk bersabar menunggu jadwal penerbangan susulan pada hari berikutnya ketimbang beralih menggunakan jalur darat menuju kota lain."Mau tidak mau harus menunggu sampai besok. Daripada lewat Palangka, kabutnya lebih parah," kata Andi. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
sampit