Hendak Evakuasi Jasad Pertama, Tim SAR Malah Temukan Lagi Mayat Berpelampung di Pantai Seruyan

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 13:12 WIB
Tim SAR gabungan menemukan sesosok mayat laki-laki terdampar di pesisir Pantai Sungai Gantingan, Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Senin (21/9/2026). (Basarnas/Radar Sampit)
Tim SAR gabungan menemukan sesosok mayat laki-laki terdampar di pesisir Pantai Sungai Gantingan, Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Senin (21/9/2026). (Basarnas/Radar Sampit)

SERUYAN – Upaya penyisiran tim SAR gabungan dalam memburu keberadaan korban insiden KM Virgo Transport 8 rute Surabaya–Banjarmasin kembali membuahkan titik terang. Sesosok jasad pria kembali ditemukan terdampar di pesisir Pantai Sungai Gantingan, Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Senin (21/9) pagi.

Uniknya, penemuan jasad kedua ini terjadi secara tak sengaja ketika tim SAR gabungan tengah bertolak menuju titik penemuan jasad pertama—yang sebelumnya telah ditemukan warga pada Minggu (20/9) sore di Pantai Sungai Rambai.

Kepala Desa Sungai Perlu, Siti Halisah, mengonfirmasi kabar ditemukannya jasad tambahan tersebut di tengah proses evakuasi.

“Pada saat tim SAR gabungan bergerak ke lokasi penemuan mayat yang terdampar Minggu kemarin, di perjalanan kembali menemukan mayat terdampar di pesisir Sungai Gantingan,” kata Siti saat dikonfirmasi, Senin (21/9).

Jasad pria yang ditemukan kali ini sudah dalam kondisi membengkak, namun masih mengenakan life jacket atau rompi pelampung berwarna oranye yang melekat di tubuhnya. Petugas langsung memasukkan jenazah ke dalam kantong mayat untuk segera dievakuasi dan diidentifikasi oleh pihak berwenang.

Penemuan ini kian menguatkan dugaan keterkaitannya dengan tragedi KM Virgo Transport 8, terlebih setelah sebelumnya petugas juga menemukan life raft atau perahu karet darurat dalam posisi terbalik tak jauh dari lokasi awal. Meski begitu, kepastian identitas korban masih menunggu hasil identifikasi medis.

Proses evakuasi di lapangan sendiri menghadapi tantangan berat akibat medan yang terisolasi dan cuaca laut yang dinamis.  “Dari pusat pemerintahan Desa Sungai Perlu menuju lokasi penemuan mayat pertama butuh waktu sekitar tiga jam, itu pun jika tidak terkendala pasang air laut,” jelas Siti.

Kondisi pasang air laut bahkan sempat menahan pergerakan tim SAR pada Minggu sore hingga memaksa rombongan menginap di perjalanan. Kini, petugas di lapangan terus berpacu dengan waktu dan gelombang laut untuk merampungkan proses penanganan seluruh jenazah. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Seruyan