PROKAL.CO- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Tengah tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga membawa ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa liar. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mencatat sedikitnya 48 satwa liar terpaksa harus dievakuasi akibat terdampak langsung maupun tidak langsung oleh amukan si jago merah.
Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi, mengungkapkan bahwa dari total satwa yang berhasil diselamatkan, 25 ekor di antaranya adalah orangutan. Sementara sisanya merupakan satwa lain seperti trenggiling dan kukang yang terpapar panas api serta pekatnya kabut asap.
"Kalau dampak karhutla, total satwa liar yang di-rescue ada 48, yakni 25 orangutan dan lainnya trenggiling, kukang. Dari 25 orangutan itu terdampak karhutla, baik kebakarannya maupun asapnya," ujar Kadhafi, Kamis (8/10/2026).
Sebagian besar satwa tersebut ditemukan berupaya menyelamatkan diri dari kantong-kantong kebakaran di sejumlah wilayah, seperti Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, dan Seruyan. Hingga kini, pihak BKSDA bersama berbagai instansi terus menyisir area terdampak dan mengimbau masyarakat agar aktif melapor jika menemukan satwa liar yang terjebak karhutla.
"Kami terus bersinergi dengan para pihak, mencoba mencari satwa liar terdampak. Kami harapkan laporan masyarakat," imbuhnya.
Dampak dari polusi udara akibat karhutla ini juga dirasakan langsung di kawasan konservasi. Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) melaporkan sebanyak 47 orangutan di pusat rehabilitasi mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, menjelaskan bahwa kawasan konservasi saat ini relatif aman dari jilatan api secara langsung. Namun, tantangan terbesar justru datang dari kepulan asap tebal yang terbawa angin hingga memasuki area kandang satwa.
"Kondisi sekarang menantang. Aman dari api, tetapi tidak aman dari asap," ucap Jamartin.
Untuk meminimalisir dampak buruk terhadap kesehatan primata dilindungi tersebut, pengelola penangkaran telah memasang sistem penyemprot air atau sprinkler di atas kandang. Selain itu, puluhan orangutan yang terinfeksi ISPA mendapatkan perawatan intensif, termasuk terapi menggunakan alat bantu pernapasan nebulizer.
"Di kandang, tempat kami yang sudah terkena ISPA ada 47 orangutan. Beberapa di antaranya sudah diberikan nebulizer, sehingga kondisi asap tidak terlalu berpengaruh. Kami berharap kondisi ini tidak berlangsung lama," tambahnya, menegaskan bahwa tidak ada satwa yang berada dalam kondisi kritis.
Sementara itu, Dokter Hewan BOSF, Agus Fahroni, memaparkan bahwa gejala gangguan pernapasan yang dialami orangutan akibat menghirup asap karhutla hampir serupa dengan yang dirasakan oleh manusia, seperti batuk-batuk dan tenggorokan gatal. Penanganan medis dilakukan dengan memberikan obat herbal, vitamin, serta memastikan kebutuhan cairan tubuh satwa tetap tercukupi dengan baik.
Meski saat ini kondisi para orangutan masih bisa dikendalikan, tim medis tetap mewaspadai ancaman jangka panjang. Paparan asap pekat secara terus-menerus dikhawatirkan dapat memicu kerusakan paru-paru permanen hingga berujung pada gangguan pernapasan kronis yang membahayakan nyawa.
"Karena menghirup asap, pencemaran udara bisa menyebabkan kerusakan paru-paru dan jika itu terjadi bisa menyebabkan kematian," tandas Agus. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : radarsampit.com