Seperti buaya muara, pesut, penyu, dan juga dugong yang ada di laut Teluk Balikpapan. Lalu burung enggang, macan dahan, bekantan, dan orang utan di wilayah hutan Teluk Balikpapan. “Padahal keanekaragaman hayati yang sampai saat ini masih dilindungi. Karena pembangunan, Tapi sudah mulai jarang ditemui, ketika pembangunan IKN dimulai,” ungkap Dyah Ayu Pramesti.
Ketua Wilayah GROW Kaltim-Tara Kelompok Sena Wara Borneo Maha Sakti Esa Sanjaya menambahkan ada beberapa permasalahan di Teluk Balikpapan yang menjadi poin penelitian dan diskusi tersebut. Yakni keterancaman keanekaragaman hayati, lalu permasalahan konservasi tutupan mangrove yang ada di wilayah Teluk Balikpapan, serta pentingnya peran pemuda dalam melestarikan lingkungan
“Penelitian kami menunjukkan bahwa pembangunan IKN telah mengancam keanekaragaman hayati dan kawasan mangrove di Teluk Balikpapan. Ini adalah isu konservasi yang harus segera ditangani oleh pihak terkait. Dalam hal ini adalah Otorita IKN,” ungkapnya.
GROW Kaltim-Tara Kelompok Sena Wara Borneo saat ini telah melakukan jajak pendapat terkait dengan dampak pembangunan IKN terhadap ekologi Teluk Balikpapan. Sebagai dasar penyusunan policy brief atau dokumen ringkas yang menyajikan analisis dan rekomendasi mengenai dampak pembangunan terhadap Teluk Balikpapan.
“Dan policy brief itu akan kami serahkan saat melakukan audiensi dengan Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LHSDA), Ibu Myrna Asnawati Safitri pada tanggal 12 September nanti di Kantor Otorita IKN,” katanya.
Dia pun berharap melalui rekomendasi yang dituangkan dalam policy brief mengenai dampak ekologi pembangunan IKN terhadap Teluk Balikpapan itu, dapat ditindaklanjuti melalui sebuah kebijakan. Untuk melakukan konservasi dan pemulihan terhadap kondisi Teluk Balikpapan. Yang diduga berkurang sebagai dampak pembangunan IKN.
“Kami berharap ada langkah lebih lanjut dalam upaya pemulihan lingkungan di Teluk Balikpapan. Dan mahasiswa bisa melakukan gerakan, agar bisa mengawal kebijakan tersebut agar tepat sasaran,” harapnya.(*)