PROKAL.co, BALIKPAPAN-Upaya menekan volume sampah di Kota Balikpapan kini semakin diperkuat dengan menyasar lingkungan sekolah. Sebanyak sekitar 600 sekolah tingkat SD hingga SMP/MTs dilibatkan sebagai garda terdepan dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Program ini dijalankan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), dengan fokus menanamkan kebiasaan memilah dan mengelola sampah kepada para pelajar sejak dini. Langkah ini dinilai strategis untuk membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.
Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, menegaskan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam membentuk perilaku ramah lingkungan. Menurutnya, pendidikan pengelolaan sampah harus dimulai sejak usia dini agar menjadi kebiasaan yang melekat.
“Kalau di rumah dimulai dari keluarga, maka di sekolah dimulai dari lingkungan sekolah. Anak-anak ini yang nantinya akan membentuk kebiasaan,” ujarnya kepada media, Kamis (26/3).
Melalui sosialisasi yang telah dilakukan ke ratusan sekolah, para siswa diperkenalkan pada pentingnya pengelolaan sampah yang benar, mulai dari pemilahan antara sampah organik dan anorganik hingga upaya pengurangan sampah. Edukasi ini diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan rumah tangga.
Langkah tersebut menjadi semakin penting mengingat produksi sampah di Balikpapan mencapai sekitar 550 ton per hari. Tanpa pengelolaan yang baik dari sumbernya, beban tempat pembuangan akhir (TPA) akan terus meningkat dan berpotensi menimbulkan masalah lingkungan yang lebih besar.
Meski demikian, berbagai upaya yang telah dilakukan mulai menunjukkan hasil positif. DLH mencatat sekitar 120 ton sampah per hari berhasil dikurangi melalui pengolahan di fasilitas seperti Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), Intermediate Treatment Facility (ITF), Material Recovery Facility (MRF), serta kontribusi aktif masyarakat termasuk dari lingkungan sekolah.
“Saat ini volume sampah yang masuk ke TPA berada di kisaran 380 hingga 400 ton per hari,” jelas Sudirman.
Ia berharap keterlibatan aktif sekolah dapat mempercepat terbentuknya budaya sadar sampah di tengah masyarakat. Menurutnya, anak-anak memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang dapat membawa kebiasaan baik ke lingkungan keluarga dan sekitarnya.
“Kalau anak-anak sudah terbiasa, ini akan berdampak besar ke depannya. Mereka bisa membawa kebiasaan baik ini ke rumah dan lingkungan,” tambahnya.
Dengan menjadikan sekolah sebagai pusat edukasi lingkungan, Pemkot Balikpapan optimistis upaya pengurangan sampah dapat dilakukan secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus menciptakan generasi yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan. (ADV/kominfobpn)
Editor : Wawan