Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Video Viral Orangutan Kurus di Area Tambang Kaltim Kini Pulih

Muhamad Yamin • Selasa, 26 Mei 2026 | 17:04 WIB
Orang utan
Orang utan
 
PROKAL.CO, SAMARINDA - Video seekor induk orangutan bersama bayinya yang bertubuh sangat kurus saat melintas di jalan hauling tambang batu bara di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, kembali menjadi perhatian publik. Rekaman yang pertama kali viral pada September 2023 itu kini kembali ramai dibicarakan hingga mendapat sorotan internasional.
 
Dua orangutan tersebut diketahui ditemukan di kawasan perbatasan konsesi tambang batu bara milik PT Ganda Alam Makmur dan PT Indexim, tepatnya di Kecamatan Kaubun, Kutai Timur. Kawasan itu merupakan bagian dari lanskap Karaitan, habitat meta populasi orangutan yang kini terus terfragmentasi akibat aktivitas industri.
 
Berdasarkan penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), lanskap Karaitan meliputi Kecamatan Bengalon, Kaubun, dan Kaliorang yang dipenuhi aktivitas pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit hingga Hutan Tanaman Industri (HTI). Kondisi tersebut membuat habitat alami orangutan terpecah menjadi kantong-kantong hutan kecil yang tidak saling terhubung.
 
Saat video viral muncul, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama mitra konservasi langsung melakukan penelusuran. Pada akhir September 2023, induk orangutan dan bayinya berhasil ditemukan di area tambang dalam kondisi memprihatinkan.
 
Kedua satwa itu kemudian dievakuasi pada 25 September 2023 dan diberi nama Mauliyan untuk induknya serta Ariandi untuk anaknya. Setelah dievakuasi, keduanya dibawa ke pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) milik Centre for Orangutan Protection (COP) di Kabupaten Berau.
 
Manager Pusat Rehabilitasi Orangutan COP, Widi Nursanti mengatakan tim rescue menemukan Mauliyan dan Ariandi di kawasan hutan yang telah beralih fungsi menjadi area pertambangan.
 
“Tim medis mengidentifikasi Mauliyan mengalami malnutrisi berat. Kondisi tubuhnya sangat kurus, dehidrasi, tulang terlihat jelas, kulitnya sangat kering dan dia masih aktif menyusui anaknya,” ujar Widi dalam keterangannya.
 
Menurut Widi, proses penyelamatan berlangsung sulit karena tim harus mengevakuasi induk dan anak sekaligus di area minim sumber pakan. Tim rescue bahkan menginap di bawah pohon tempat Mauliyan dan Ariandi tidur untuk membatasi pergerakan keduanya.
 
Saat proses pembiusan dilakukan, tiga tembakan bius sempat meleset karena tubuh Mauliyan yang terlalu kurus membuat tim kesulitan mencari titik aman. Pada tembakan keempat, obat bius akhirnya mengenai tubuh Mauliyan.
 
Dalam kondisi panik dan setengah terbius, Ariandi sempat terlepas dari pelukan induknya sebelum akhirnya diamankan tim rescue. Melihat anaknya dibawa petugas, Mauliyan kemudian turun dari pohon dan langsung ditangkap menggunakan jaring pengaman.
 
Paramedis COP, Miftachul Hanifah menyebut kondisi Mauliyan menjadi salah satu yang paling memprihatinkan selama proses rescue orangutan.
 
“Mauliyan mengalami dehidrasi, malnutrisi dan masih menyusui anaknya. Kondisi menyusui memperberat malnutrisi dan dehidrasinya,” katanya.
 
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Mauliyan mengalami malnutrisi berat dengan body condition score (BCS) hanya 1,5 dari skala 5. Rambut di sebagian besar tubuhnya rontok, kulit mengelupas, mata cekung hingga mengalami hipoglikemia atau gula darah rendah.
 
Enam hari setelah tiba di pusat rehabilitasi, Mauliyan sempat pingsan akibat kondisi tubuh yang sangat lemah. Tim medis kemudian memberikan terapi cairan, dextrose, madu hingga tambahan nutrisi intensif.
 
Selama masa rehabilitasi, Mauliyan mendapat porsi makan dua kali lebih banyak dibanding orangutan lain. Ia juga diberi tambahan alpukat, susu kedelai, vitamin, cairan elektrolit dan perawatan kulit menggunakan coconut oil.
 
“Pada Desember 2023 berat badan Mauliyan naik dari 19 kilogram menjadi 27 kilogram. Lalu Maret 2024 beratnya mencapai 34 kilogram,” ujar Miftachul.
 
Sementara itu, Ariandi yang diperkirakan berusia tiga tahun ditemukan dalam kondisi fisik lebih baik dibanding induknya. Meski demikian, Ariandi tetap menjalani pemantauan intensif bersama Mauliyan.
 
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto mengatakan kedua orangutan tersebut sebenarnya masih memiliki perilaku liar yang baik sehingga tidak membutuhkan rehabilitasi perilaku.
 
“Yang diperlukan adalah rehabilitasi kesehatan karena keduanya mengalami malnutrisi. Setelah kondisi kesehatan membaik dan perilakunya tetap alami, keduanya dinilai layak dilepasliarkan,” katanya.
 
Setelah menjalani rehabilitasi sekitar enam bulan, Mauliyan dan Ariandi akhirnya dilepasliarkan kembali ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur pada Maret 2024.
 
Dalam proses pelepasliaran itu, Mauliyan dan Ariandi terlihat langsung memeluk pohon dan kembali masuk ke dalam hutan bersama-sama. Hingga kini, BKSDA Kaltim dan COP masih terus memantau pergerakan keduanya di habitat barunya. (*)
Editor : Indra Zakaria
#orang utan