Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Penyelamatan Badak Pari Dipercepat, BKSDA Kaltim Siapkan Translokasi Badak Kalimantan Terakhir di Alam

Muhamad Yamin • Selasa, 9 Juni 2026 | 22:28 WIB
Badak Kalimantan.
Badak Kalimantan.

PROKAL.CO, SAMARINDA - Upaya penyelamatan Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) memasuki fase krusial. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, akademisi, lembaga konservasi, hingga tokoh adat sepakat mempercepat rencana translokasi Badak Pari Mahulu, satu-satunya badak Kalimantan yang masih hidup di alam liar.

Kesepakatan itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu Tingkat Provinsi yang digelar di Balikpapan, Senin (8/6/2026). Rakor tersebut menjadi langkah strategis untuk menyatukan dukungan lintas sektor dalam penyelamatan satwa yang kini berada di ambang kepunahan.

Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, mengatakan seluruh pihak memahami bahwa penyelamatan Badak Pari harus segera dilakukan. Menurutnya, langkah tersebut perlu dirancang secara rinci agar memberikan manfaat tidak hanya bagi satwa itu sendiri, tetapi juga bagi upaya konservasi jangka panjang.

"Semua pihak cukup paham bahwa upaya penyelamatan ini harus segera dilakukan. Kita harus mendetailkan lagi agar upaya penyelamatan bisa memberikan hasil yang berguna bagi badaknya maupun bagi manusianya," kata Ari usai rakor. Saat ini populasi Badak Kalimantan tersisa dua individu betina. Satu individu bernama Pahu berada di Suaka Badak Kelian dalam pengawasan intensif, sementara satu individu lainnya, Pari Mahulu, masih bertahan di habitat alaminya di wilayah Mahakam Ulu.

Kondisi tersebut membuat pemerintah dan para pegiat konservasi menilai penyelamatan Pari Mahulu tidak bisa ditunda. Sebab, jika badak tersebut mati di alam tanpa pengawasan, peluang penyelamatan materi genetik terakhir Badak Kalimantan akan hilang. Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik (KSG) Kementerian Kehutanan, Budi Mulyanto, mengatakan program translokasi ini merupakan kelanjutan dari berbagai upaya yang selama ini dilakukan BKSDA Kaltim di tingkat daerah.

Menurutnya, dukungan pemerintah provinsi sangat dibutuhkan karena penyelamatan Badak Pari merupakan bagian dari upaya menjaga aset nasional yang sangat berharga.

"Keberadaan badak di Kalimantan ini hanya tersisa satu ekor yang berada di alam. Secara umum memang ada dua ekor, tetapi tinggal satu ekor saja yang berada di alam dan keduanya betina. Karena itu diperlukan langkah komprehensif untuk penyelamatan dan pengembangbiakan selanjutnya," ujarnya.


Habitat Tetap Dipertahankan

Selain membahas proses penyelamatan, rakor juga menyoroti masa depan habitat Badak Pari di Mahakam Ulu. Ari menegaskan kawasan hutan yang selama ini menjadi rumah satwa tersebut tidak akan hilang pasca-translokasi. Menurutnya, seluruh pihak telah sepakat mengusulkan kawasan itu menjadi areal preservasi kepada pemerintah pusat guna menjaga fungsi ekologisnya.

"Kami sepakat habitatnya tetap dipertahankan. Nanti akan kami usulkan menjadi areal preservasi kepada pemerintah pusat. Jadi tidak hilang seperti isu yang berhembus. Harapannya habitat itu tetap terjaga sehingga jika penyelamatan berhasil dan berkembang biak, ada lokasi untuk pelepasliaran kembali," tegasnya. Langkah tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran sejumlah pihak terkait nasib kawasan habitat Badak Pari setelah proses pemindahan dilakukan.


Kandang Karantina dan Helikopter Disiapkan

Sementara itu, Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu (Alert), Kurnia Oktavia Khairani, mengungkapkan berbagai persiapan teknis terus dilakukan guna meminimalkan risiko selama proses translokasi. Salah satunya adalah pembangunan boma atau kandang karantina yang akan digunakan Pari Mahulu setelah dipindahkan ke Suaka Badak Kelian. Badak tersebut nantinya akan menjalani masa karantina selama sekitar tiga bulan sebelum ditempatkan di kandang eksklosur permanen.

"Kami saat ini sedang membangun boma dan paddock. Paddock adalah kandang eksklosur besar yang nantinya menjadi rumah Pari. Saat ini kami baru memiliki satu paddock di Suaka Badak Kelian dan sedang membangun satu paddock baru khusus untuk Pari," jelasnya. Selain fasilitas, tim juga menyiapkan aspek operasional, termasuk penggunaan helikopter untuk proses pemindahan melalui jalur udara. Pemilihan vendor dan seluruh tahapan administrasi disebut dilakukan secara ketat demi menjaga akuntabilitas program.

Di sisi lain, tim survei terus memantau pergerakan Pari Mahulu untuk memastikan satwa tersebut masih berada di jalur yang sama menjelang tahap akhir operasi penangkapan. "Kami juga sedang menyusun SOP komunikasi karena operasi ini melibatkan banyak pemangku kepentingan. Kami ingin memastikan komunikasi antarinstansi berjalan sesuai kesepakatan bersama," ujarnya.


Dukungan Penuh Masyarakat Adat

Rencana penyelamatan Badak Pari juga mendapat dukungan dari masyarakat adat. Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur, Victor Juan, menyatakan pihaknya mendukung penuh upaya penyelamatan dan pengembangbiakan badak yang tersisa di Mahakam Ulu.

Ia menilai keberhasilan program tersebut tidak hanya penting bagi kelestarian satwa langka, tetapi juga bagi perlindungan hutan dan keseimbangan ekosistem di Kalimantan. "Kami mewakili masyarakat adat Kalimantan Timur mendukung penuh upaya penyelamatan dan pengembangbiakan Badak Pari. Selain melindungi satwa yang dilindungi, upaya ini juga membantu menjaga konservasi hutan dan keseimbangan alam agar tetap lestari," katanya.

Melalui translokasi ini, pemerintah berharap peluang pemanfaatan teknologi reproduksi berbantuan (Assisted Reproductive Technology/ART) hingga penyelamatan materi genetik jangka panjang dapat segera dilakukan. Langkah tersebut menjadi harapan terakhir agar Badak Kalimantan tidak hilang dari bumi Indonesia dan tetap memiliki kesempatan untuk berkembang biak di masa depan. (*)

Editor : Indra Zakaria
#badak kalimantan