Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Alasan Badak Pari Harus Dipindahkan: Jangan Sampai Hanya Tersisa Tulang di Museum

Muhamad Yamin • Rabu, 10 Juni 2026 | 14:57 WIB
Pari, badak Kalimantan betina.
Pari, badak Kalimantan betina.
 
PROKAL.CO, SAMARINDA - Rencana penyelamatan Badak Kalimantan betina bernama Pari dari habitat alaminya di hulu Mahakam Ulu menuai berbagai spekulasi. Salah satu isu yang beredar menyebutkan translokasi satwa langka tersebut dilakukan untuk mengosongkan kawasan hutan yang selama ini menjadi habitatnya agar dapat dialihfungsikan untuk kepentingan lain.
 
Namun tudingan tersebut dibantah dalam Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Tingkat Provinsi yang digelar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur di Balikpapan, Senin kemarin. 
 
Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto menegaskan penyelamatan Badak Pari semata-mata didasarkan pada pertimbangan konservasi dan upaya penyelamatan spesies yang berada di ambang kepunahan.
 
Menurutnya, habitat Pari di Hutan Lindung Buring Ayok justru akan tetap dipertahankan dan diusulkan menjadi kawasan preservasi agar tetap terlindungi setelah proses translokasi dilakukan.
 
"Terkait pasca-penyelamatan, keinginan semua pihak sebetulnya habitat Badak Pari tetap dipertahankan menjadi areal konservasi atau areal preservasi. Kami sepakat dan akan mengusulkan menjadi areal preservasi kepada pemerintah pusat," kata Ari.
 
Ia memastikan kawasan tersebut tidak akan hilang atau dilepas status perlindungannya setelah Pari dipindahkan ke Suaka Badak Kelian di Kabupaten Kutai Barat.
 
"Ya tidak hilang. Kami berharap habitatnya tetap terjaga sehingga nanti kalau penyelamatannya berhasil, kemudian berkembang biak, ada lokasi untuk pelepasliaran lagi," ujarnya.
 
Hutan Lindung Buring Ayok sendiri merupakan benteng hijau terakhir di wilayah hulu Kabupaten Mahakam Ulu yang berada di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Kawasan ini berbatasan langsung dengan wilayah adat masyarakat Kampung Nyaribungan dan Kampung Danum Paroy, Kecamatan Laham.
 
Selain menjadi habitat Badak Kalimantan, kawasan tersebut dikenal memiliki kekayaan biodiversitas tinggi sehingga keberadaannya dinilai penting untuk tetap dipertahankan, terlepas ada atau tidaknya Badak Pari di dalamnya.
 
Urgensi penyelamatan Pari semakin besar karena satwa tersebut saat ini merupakan satu-satunya individu Badak Kalimantan yang masih diketahui hidup di alam liar.
 
Tim ahli reproduksi badak Indonesia, drh Muhammad Agil, mengatakan translokasi dilakukan untuk mencegah hilangnya materi genetik terakhir spesies tersebut.
 
Ia menjelaskan kondisi tubuh Pari berdasarkan pemantauan visual dinilai cukup baik dan diperkirakan masih memiliki peluang reproduksi yang lebih besar dibandingkan badak betina lain bernama Pahu yang saat ini berada di Suaka Badak Kelian.
 
"Harapannya dia lebih muda dari Pahu sehingga punya potensi untuk berhasil dikoleksi sel telurnya dan kita bisa mengembangkan program bayi tabung dengan menggunakan sperma Badak Sumatera yang ada di Way Kambas," katanya.
 
Menurut Agil, keberadaan Pari di suaka akan membuka peluang pengambilan sampel biologis yang selama ini tidak mungkin dilakukan saat satwa tersebut hidup bebas di alam.
 
Sampel tersebut berupa jaringan kulit maupun mukosa atau lapisan lendir pada gusi yang dapat dikembangkan menjadi kultur sel untuk kepentingan teknologi reproduksi modern.
 
"Dari kulit dan mukosa gusi itu kita bisa mendapatkan materi fibroblast atau cell line. Dari situ kita bisa mengembangkan gamet atau sel sperma dan sel telur artifisial," jelasnya.
 
Tak hanya program bayi tabung, material biologis tersebut juga berpotensi digunakan dalam program kloning guna menghasilkan individu baru yang memiliki materi genetik identik dengan Pari.
 
"Kalau kita mendapatkan cell line dari Pari, maka kita punya kesempatan melakukan program kloning. Itu akan menjadi individu baru dengan genetik 100 persen sama dengan Pari," ujarnya.
 
Agil menegaskan risiko terbesar apabila Pari tetap dibiarkan hidup sendiri di alam adalah hilangnya seluruh materi biologis berharga ketika satwa tersebut mati tanpa terdeteksi.
 
Ia mencontohkan sejumlah kasus kematian badak di alam yang baru diketahui setelah tubuh satwa mengalami pembusukan sehingga jaringan hidupnya tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan konservasi.
 
"Jangan sampai kita hanya bisa memanfaatkan tulangnya untuk membangun kerangka Badak Kalimantan di museum, tapi sel hidupnya sudah tidak ada karena mati di alam," katanya.
 
Menurutnya, dalam hitungan jam setelah kematian, sel-sel hidup dan protein akan mengalami kerusakan sehingga peluang penyelamatan materi genetik hilang sepenuhnya.
 
Karena itu, pemindahan Pari ke Suaka Badak Kelian dinilai sebagai kesempatan terakhir untuk menyelamatkan spesies Badak Kalimantan dari kepunahan.
 
"Dengan berada di suaka, kapan saja kita bisa melakukan tindakan untuk memperbanyak material biologis yang nantinya dimanfaatkan melalui teknologi reproduksi berbantu. Harapannya dalam jangka panjang Badak Kalimantan bisa terselamatkan dari kepunahan," tuturnya.
 
Rakor tersebut juga menegaskan bahwa perlindungan Hutan Lindung Buring Ayok akan tetap menjadi prioritas. Bahkan, kawasan itu diproyeksikan menjadi habitat pelepasliaran apabila upaya pengembangbiakan Badak Kalimantan melalui teknologi reproduksi modern berhasil dilakukan di masa mendatang. (*)
Editor : Indra Zakaria
#badak kalimantan