PROKAL.CO, SAMARINDA — Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) membuka ajang Sastraloka 2026 di Kopi Jadi Cultural Space, Samarinda, Sabtu, 8 Agustus 2026
Agenda ini sebagai langkah strategis dalam menjaga dan menghidupkan kembali sastra tradisi daerah.
Mengusung semangat Etam Betarsul Bedandeng, kegiatan ini menjadi ruang temu antara budaya, literasi, dan generasi muda.
Baca Juga: Andi Satya Pimpin Golkar Samarinda, Dibidik Maju Pilwali 2030
Tarsul adalah tradisi lisan berupa syair atau nyanyian berbalas-balasan yang berasal dari masyarakat Suku Kutai di Kaltim.
Sementara bedandeng adalah seni tutur atau senandung vokal tradisional khas masyarakat Suku Kutai di Kaltim yang dilantunkan tanpa iringan alat musik.
Pembukaan event ini berlangsung hangat dan penuh makna, dihadiri oleh pegiat budaya, akademisi, serta komunitas literasi yang memiliki kepedulian terhadap eksistensi sastra lisan Kutai.
Dalam sambutannya, perwakilan Balai Bahasa Kaltim menegaskan bahwa sastra lisan seperti tarsul dan bedandeng merupakan identitas kultural yang harus terus dijaga di tengah arus modernisasi.
“Sastra tradisi adalah akar kebudayaan. Tarsul dan bedandeng bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga medium pewarisan nilai dan kearifan lokal lintas generasi,” ungkapnya.
Sastraloka 2026 dirancang tidak hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai ruang praktik.
Baca Juga: Kemarau Bikin Danau Semayang Jadi Sabana Raksasa, Wisata Dadakan Desa Pela Diserbu Pemburu Sunset
Peserta diajak untuk memahami, melatih, serta mengeksplorasi bentuk ekspresi tarsul dan bedandeng dalam pendekatan yang lebih kontekstual dan kreatif, sehingga tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Direktur Sastraloka, Dr Rahmad Azazi Rhomantoro, menegaskan revitalisasi sastra lisan membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda.
Menurutnya, literasi tidak hanya terbatas pada teks, tetapi juga mencakup ekspresi lisan yang hidup dalam tradisi masyarakat.
“Sastraloka adalah gerakan budaya. Kita tidak hanya menjaga, tetapi juga menghidupkan kembali sastra tradisi agar terus dipraktikkan oleh generasi hari ini,” ujarnya.
Pemilihan Kopi Jadi Cultural Space sebagai lokasi kegiatan menjadi simbol pendekatan baru dalam pelestarian budaya, mendekatkan tradisi dengan ruang-ruang kreatif anak muda.
Baca Juga: Mentan Amran Batalkan Rapat di Jakarta, Terbang ke Alor, Pantau Program Pengentasan Kemiskinan
Melalui kolaborasi antara lembaga bahasa, komunitas, dan pegiat literasi, Sastraloka 2026 diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif dalam merawat identitas lokal.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sastra tradisi Kaltim, khususnya tarsul dan bedandeng, tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang di tengah dinamika global. (*)
Editor : Faroq Zamzami