BALIKPAPAN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengepung wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Hingga pertengahan Agustus 2026, BPBD Kaltim mencatat setidaknya sudah ada 71 kasus karhutla yang membakar 196 titik. Angka ini diprediksi bakal makin melambung mengingat puncak musim kemarau diperkirakan bakal mencapai titik terkeringnya pada September mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, membeberkan Peta Kerawanan Karhutla di wilayahnya usai mengikuti Apel Kesiapsiagaan Karhutla di Mako Brimob Polda Kaltim. Ia menyebut ada empat daerah yang saat ini mendapat perhatian ekstra lantaran mencatatkan dampak terparah.
"Daerah yang terparah karhutla ada Paser, Kubar, Kutim, dan PPU. Berau juga ada peningkatan tapi masih ada hujan. Kita juga tetap mewaspadai," tegas Buyung Dodi Gunawan.
September Diprediksi Makin Kering dan Rawan
Meski belum ada kabupaten atau kota yang menaikkan status menjadi tanggap darurat, BPBD Kaltim mewanti-wanti seluruh pihak agar tidak lengah. Berdasarkan data prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Kaltim saat ini mengalami penurunan intensitas hujan secara drastis, dan kondisi akan jauh lebih parah pada bulan depan.
"Memasuki September, kondisi diperkirakan semakin kering. Sebagian besar wilayah Kaltim, terutama di luar wilayah utara, berpotensi mengalami curah hujan yang sangat rendah, sekitar 0 hingga 20 milimeter," papar Buyung.
Kondisi cuaca yang sangat minim curah hujan tersebut mempercepat pengeringan rumput, semak belukar, serta vegetasi lahan. Akibatnya, percikan api sekecil apa pun akan sangat mudah berubah menjadi kobaran besar yang sulit dikendalikan. Berdasarkan hasil investigasi dan penanganan di lapangan, BPBD Kaltim mengonfirmasi bahwa mayoritas insiden kebakaran lahan yang terjadi masih dipicu oleh ulah dan kelalaian manusia.
"Mayoritas karhutla dipicu aktivitas manusia, mulai dari membuka lahan dengan cara membakar hingga kelalaian sepele seperti membuang puntung rokok sembarangan," ujar Buyung prihatin.
Walau rata-rata luas area terbakar saat ini masih di bawah lima hektare, Buyung menegaskan bahwa angin kencang di tengah cuaca terik bisa menyebarkan titik api secara masif dalam hitungan menit. Dampak buruknya tidak hanya merusak ekosistem, melainkan memicu bencana kabut asap yang mengancam kesehatan masyarakat serta melumpuhkan jalur transportasi.
Pemerintah Daerah Kaltim bersama TNI, Polri, dan relawan kini mengintensifkan patroli serta kesiapsiagaan personel di daerah-daerah rawan guna menekan angka kasus sebelum puncak kemarau September tiba. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co