"Jumlah penduduk miskin di Kaltim pada Maret 2026 mencapai 200,64 ribu orang, atau berkurang sekitar 1,40 ribu orang dibandingkan September 2025," ujar Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai.
Ia membeberkan bahwa posisi Kaltim saat ini berada jauh di bawah rata-rata tingkat kemiskinan nasional yang berada di angka 8,07 persen. "Bila kita lihat perbandingan antarprovinsi terkait angka kemiskinan, terlihat bahwa angka kemiskinan terendah di Indonesia ada di Provinsi Bali dengan persentase sebesar 3,44 persen, sedangkan yang tertinggi tercatat di Papua Tengah sebesar 30,41 persen," tambahnya.
Meski secara keseluruhan menurun, disparitas antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Bumi Etam masih tampak nyata. Tingkat kemiskinan di perkotaan berhasil ditekan menjadi 4,15 persen atau turun 0,16 poin persentase, namun area pedesaan justru mengalami kenaikan 0,18 poin persentase hingga menyentuh angka 7,42 persen.
"Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan sedikit mengalami penurunan, sedangkan tingkat kemiskinan penduduk di pedesaan sedikit mengalami kenaikan," jelas Mas'ud.
Seiring melonjaknya kebutuhan hidup, garis kemiskinan Kaltim tercatat naik 4,22 persen dari Rp897.759 menjadi Rp935.662 per kapita per bulan. Komoditas makanan menjadi penyumbang beban terbesar dengan porsi mencapai 70,26 persen. Dengan rata-rata satu keluarga miskin menampung 5,12 anggota rumah tangga, BPS mencatat batas garis kemiskinan per rumah tangga kini mencapai Rp4.790.589 per bulan. Evaluasi mendalam melaui indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan terus dilakukan guna mengukur kesenjangan pengeluaran warga miskin secara lebih komprehensif. (*)
Sumber : prokal.co