BP Islamic Center Kaltim Gelar Sarasehan Nasional, Tak Hanya Tempat Ibadah, Masjid Harus Berinovasi

Faroq Zamzami • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:36 WIB
AGENDA: Ketua Umum BPIC Kaltim, Irianto Lambrie, membuka sarasehan nasional di Gedung Olah Bebaya, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Selasa, 25 Agustus 2026. ISTIMEWA
AGENDA: Ketua Umum BPIC Kaltim, Irianto Lambrie, membuka sarasehan nasional di Gedung Olah Bebaya, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Selasa, 25 Agustus 2026. ISTIMEWA

PROKAL.CO, SAMARINDA-Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kalimantan Timur (Kaltim)-Masjid Raya Baitul Muttaqien menyemarakkan peringatan Maulid Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan menggelar sarasehan nasional.

Agenda bertajuk Penguatan Fungsi Masjid bagi Kemajemukan Indonesia, Transformasi dan Inovasi Masjid Berkelanjutan, itu dihelat di Gedung Olah Bebaya, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Selasa (25/8/2026).

Baca Juga: Teras Samarinda II: Parkir Dialihkan ke Pasar Pagi & Masjid Raya, 12 Tenant UMKM Sudah Siap

Sejumlah pembicara andal dihadirkan. Yakni, Muhammad Taufiq Bajeber, Ketua Dewan Penasihat Masjid Al Falah Surabaya, Jawa Timur (Jatim); dan Khusnaidi Ikhwani, Ketua Takmir Masjid Al Falah, Sragen Jawa Tengah (Jateng).

Ada pula M Ichsan Salam, CEO Badan Wakaf Al Qur'an; dan Zurqoni, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Muhammad Idris, Samarinda. 

Event yang dimulai pukul 08.30 Wita itu dibuka oleh Ketua Umum BPIC Kaltim, Irianto Lambrie. 

Irianto yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kaltim, mengatakan masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan umat, pendidikan, pemberdayaan, dan kemaslahatan masyarakat.

Baca Juga: Operasi Modifikasi Cuaca di Berau Dimulai, Siapkan 10 Ton Garam Khusus untuk Menyemai Awan

Salah satu pembicara, Zurqoni, dalam kesempatan ini memaparkan tentang inovasi masjid. 

Inovasi masjid, dalam paparannya disebutkan, setidaknya ada empat aspek. Digitalisasi, saintek modern, kreativitas, dan eco-masjid. 

Digitalisasi harus dimaksimalkan dalam layanan umat, dakwan dan lainnya. Seperti penggunaan platform digital, macam Youtube, Instagram, Facebook, hingga TikTok. 

Juga memaksimalkan penggunakan berbagai aplikasi yang mendukung dalam aktivitas digitalisasi masjid. Seperti, aplikasi dompet elektronik untuk donasi digital, zakat, infak, dan sedekah. 

Sementara saintek modern mengintegrasikan teknologi ke dalam program pelayanan jamaah.

Seperti, penggunaan aplikasi manajemen dan keuangan digital, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). 

Baca Juga: Sudah 45 Desa di Kabupaten Banjar Terjebak Krisis Air Bersih

Kreativitas berkaitan dengan penyesuaian masjid dengan kondisi terkini kehidupan masyarakat. Seperti, menyediakan wifi gratis, ruang diskusi terbuka, hingga workshop.

Sedangkan eco-masjid adalah masjid yang ramah lingkungan. Misalnya, penerapan efisiensi energi dengan penggunaan tenaga surya. Juga pengelolaan air, misalnya, daur ulang air wudu, hingga sampah. (*)

Editor : Faroq Zamzami
islamic center irianto lambrie maulid kaltim