
SAMARINDA – Gelombang tuduhan miring terkait penggelembungan harga (mark-up) alat kesehatan (alkes) dan dugaan proyek bermasalah akhirnya direspons langsung oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur. Mengelola dana fantastis hingga triliunan rupiah untuk dua rumah sakit rujukan utama, Dinkes Kaltim menggelar konferensi pers guna membeberkan secara rinci penggunaan anggaran tersebut pada Kamis (27/8/2026).
Kepala Dinkes Kaltim, dr. Jaya Mualimin, menegaskan bahwa penyerapan anggaran jumbo di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda dan RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan untuk Tahun Anggaran 2025 telah berjalan transparan dan tepat sasaran.
"Untuk Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie, anggaran di tahun 2025—baik yang berasal dari pendapatan BLUD-nya sendiri maupun pendapatan dari subsidi APBD—itu sebesar Rp874 miliar 859 juta rupiah sekian. Setelah dilakukan realisasi, angkanya mencapai 98,72 persen," tegas Jaya.
Menjawab tuduhan spesifik mengenai dugaan mark-up pengadaan alat medis canggih LC-HRMS pada tahun 2023 yang mencapai belasan miliar rupiah, Jaya membantah keras tudingan tersebut. Ia memperlihatkan bukti bahwa proses pengadaan justru menghasilkan efisiensi anggaran.
"Alatnya namanya LC-HRMS dengan pagu Rp18 miliar sekian. Mereknya Exploris 240 LC-HRMS. Harganya Rp18,240 miliar, dan kita justru bisa melakukan efisiensi sebesar Rp64.260. Ini spesifikasinya, kemudian ini ada gambarnya," jelas Jaya sambil menunjukkan dokumen pendukung.
Jaya juga mengklarifikasi isu santer yang menyebut adanya pembelian empat unit alkes yang disinyalir hanya terealisasi tiga unit di lapangan. Menurutnya, tuduhan menguapnya satu unit alat kesehatan tersebut tidak berdasar karena proyek berbasis magnetic tersebut memang dibatalkan sejak awal akibat keterbatasan waktu.
"Terkait dengan magnetic, ya memang tidak dilaksanakan. Jadi tidak ada gambarnya karena kita tidak melaksanakan. Karena terbentur waktu yang sangat singkat, anggarannya kita kembalikan. Jadi, tidak benar isu yang menyebut kita membeli empat alat padahal cuma dapat tiga," ungkap Jaya.
Mengenai sorotan publik terhadap rencana pengadaan alkes Gedung Perawatan Pandurata RSUD AWS pada Tahun Anggaran 2026 yang menelan pagu sebesar Rp100,41 miliar, Jaya meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi berlebihan.
"Untuk pengadaan tahun 2026 Gedung Pandurata yang pagunya Rp100.410.781.996 ini baru akan dilaksanakan. Jadi kalau baru akan dilaksanakan, tentu belum ada gambarnya karena kita belum menentukan atau menyebut merek," pungkasnya. (*)
Sumber : prokal.co