Kepungan Asap Karhutla Memburuk, Belasan Ribu Siswa SMA/SMK di Kaltim Terpaksa Dirumahkan

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 08:13 WIB
Kaltim kini terus dikepung asap, bahkan kualitas udara semakin memburuk dan berdampak pada kesehatan.
Kaltim kini terus dikepung asap, bahkan kualitas udara semakin memburuk dan berdampak pada kesehatan.

SAMARINDA — Kepulan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian pekat di Kalimantan Timur membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim mengambil tindakan tegas. Memburuknya kualitas udara memaksa belasan ribu pelajar menghentikan aktivitas belajar tatap muka demi keselamatan kesehatan mereka.

"Sampai saat ini ada empat wilayah yang resmi menerapkan pembelajaran dari rumah, yakni Kabupaten Berau, Mahakam Ulu, Kutai Barat, serta Kecamatan Long Ikis di Kabupaten Paser," kata Sekretaris Disdikbud Kaltim, Rahmat Ramadhan.

Kondisi terparah terjadi di Kabupaten Berau. Asap pekat yang tak kunjung terurai membuat otoritas setempat harus mengambil tindakan ekstra. "Bahkan Kabupaten Berau tercatat sudah dua kali memperpanjang masa belajar dari rumah karena polusi udara tak kunjung mereda," lanjut Rahmat.

Pengalihan sistem belajar ini tidak dilakukan secara asal-asalan, melainkan wajib mengacu pada parameter ketat baku mutu kualitas udara dari kementerian. Skema Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) otomatis wajib diberlakukan jika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di suatu wilayah telah menembus angka di atas 300 atau masuk kategori berbahaya.

Imbasnya, ancaman racun asap kini telah menempatkan puluhan sekolah dalam posisi rentan. "Sebanyak 37 sekolah tingkat SMA/SMK sederajat, baik negeri maupun swasta, kini masuk zona merah karhutla dengan total 11.864 pelajar yang terpaksa merumahkan diri dan mengalihkan proses belajar mengajar secara daring," ujar Rahmat menjelaskan situasi terkini.

Melihat dinamika di lapangan yang masih berfluktuasi, Disdikbud Kaltim bersama pemerintah daerah terus memperketat pemantauan kualitas udara harian. Otoritas pendidikan tidak akan ragu menambah daftar sekolah yang dirumahkan jika kepulan asap merembet ke daerah lain.

"Sistem pembelajaran akan terus disesuaikan dengan dinamika di lapangan. Keselamatan dan kesehatan anak didik adalah prioritas utama. Jika kondisi udara sangat membahayakan, pembelajaran penuh akan dialihkan ke sistem daring," tegas Rahmat menutup keterangannya. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
karhutla