Siti Hawa Tumbuhkan Wawa Etnika hingga Buka Peluang bagi Masyarakat bersama TJSL PLN UID Kaltimra

Wawan • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:13 WIB
Perjalanan Siti dimulai pada 2017 dengan modal sekitar Rp 5 juta dan keterampilan yang dimilikinya.
Perjalanan Siti dimulai pada 2017 dengan modal sekitar Rp 5 juta dan keterampilan yang dimilikinya.

 

PROKAL.co, Kutai Kartanegara – Dari rangkaian manik-manik, tenun, dan sulam, Siti Hawa merangkai lebih dari sekadar produk kerajinan. Ia merangkai perjalanan sebuah usaha yang berangkat dari keterbatasan, bertumbuh melalui proses belajar, dan kini mulai membuka peluang bagi masyarakat di sekitarnya.

Perjalanan tersebut dimulai pada 2017, dengan modal sekitar Rp5 juta dan keterampilan yang dimilikinya, Siti merintis usaha kerajinan yang kemudian dikenal dengan nama Wawa Etnika. Berangkat dari kekayaan budaya lokal, ia mengembangkan manik-manik, kain tenun, dan sulam menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.

“Awalnya saya hanya ingin memanfaatkan keterampilan yang saya miliki. Modalnya tidak besar, yang penting usaha ini bisa berjalan,” kenang Siti.

Pada masa awal usaha, hampir seluruh proses dikerjakan sendiri. Mulai dari membuat produk hingga memasarkannya kepada kerabat, teman, dan pelanggan yang mengenal hasil karyanya.

Namun, seiring perjalanan usaha, Siti menyadari bahwa keterampilan produksi saja belum cukup. Ia membutuhkan pengetahuan, jejaring, dan akses pasar agar Wawa Etnika dapat berkembang lebih jauh.

Momentum tersebut hadir ketika Siti bergabung dengan Rumah BUMN Kutai Kartanegara pada 2018, sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (UID Kaltimra).

Rumah BUMN menjadi ruang bagi Siti untuk terus belajar dan berinteraksi dengan sesama pelaku UMKM. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, ia mendapatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan terkait pengembangan produk, pemasaran, dan pengelolaan usaha.

Tidak berhenti pada peningkatan kapasitas, kesempatan untuk mengikuti berbagai pameran dan expo juga membuka ruang bagi Wawa Etnika untuk memperkenalkan produknya kepada calon konsumen dan jejaring yang lebih luas.

“Di Rumah BUMN Kutai Kartanegara saya tidak hanya belajar tentang usaha, tetapi juga bertemu banyak pelaku UMKM lain. Kami saling berbagi pengalaman, saling menguatkan, dan membuka peluang kerja sama,” ujar Siti.

Perlahan, pengalaman tersebut turut memperkuat langkah Siti dalam mengembangkan Wawa Etnika. Akses pemasaran pun semakin beragam, termasuk melalui marketplace pada PLN Mobile yang menjadi salah satu kanal pemasaran bagi produk UMKM binaan.

Perkembangan usaha mulai terlihat dari peningkatan penjualan. Usaha yang dahulu dirintis dengan modal sekitar Rp5 juta tersebut kini mampu mencatat omzet rata-rata sekitar Rp15 juta per bulan. Pada momentum tertentu seperti event, expo, maupun pameran UMKM, omzet Wawa Etnika dapat mencapai sekitar Rp40 juta.

Lebih dari itu, perjalanan Wawa Etnika telah membangun kepercayaan dirinya sebagai pelaku usaha. Ia semakin berani memperkenalkan produk, memperluas jaringan, serta melihat peluang pasar di luar lingkungan awal tempat usahanya dirintis.

“Rumah BUMN membuat saya lebih percaya diri. Saya jadi tahu bagaimana mengembangkan usaha, memperluas jaringan, dan membawa produk kami ke pasar yang lebih luas,” tuturnya.

Pertumbuhan Wawa Etnika juga membuka kesempatan bagi Siti untuk melibatkan masyarakat sekitar dalam proses produksi ketika permintaan meningkat. Dari usaha yang pada awalnya dikerjakan seorang diri, aktivitas produksi kini turut melibatkan orang lain sesuai kebutuhan.

Bagi Siti, hal tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan usahanya: ketika sebuah usaha yang dimulai untuk menghidupi diri sendiri mulai memiliki ruang untuk memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar.

General Manager PLN UID Kaltimra, Muchamad Chaliq Fadli, mengatakan perjalanan Wawa Etnika menunjukkan pentingnya pemberdayaan UMKM yang tidak hanya berorientasi pada bantuan awal, tetapi juga pada peningkatan kapasitas dan perluasan akses bagi pelaku usaha.

“Bagi PLN, pemberdayaan UMKM merupakan proses untuk mendorong pelaku usaha agar semakin memiliki kapasitas dan kemandirian. Karena itu, kami berupaya menghadirkan ekosistem yang membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk belajar, membangun jejaring, memperkenalkan produk, dan mengembangkan akses pasar,” ujar Chaliq.

Menurutnya, Rumah BUMN menjadi salah satu ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai kesempatan pengembangan usaha.

“Kami tentu berharap dukungan yang diberikan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pelaku UMKM. Ketika pengetahuan bertambah, jejaring semakin luas, dan akses pasar terbuka, kami berharap pelaku usaha memiliki fondasi yang semakin kuat untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan,” tambahnya.

Chaliq juga menilai Wawa Etnika memiliki kekuatan tersendiri karena mengangkat potensi budaya lokal sebagai bagian dari produk yang dikembangkan.

“Wawa Etnika menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi ketika dipadukan dengan kreativitas, kualitas, dan kemauan untuk terus belajar. Kami berharap semakin banyak pelaku UMKM di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang mampu mengembangkan potensi daerahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” katanya.

Di tengah perubahan tren dan persaingan usaha yang terus berkembang, Siti memilih untuk tetap mempertahankan identitas lokal sebagai bagian dari kekuatan Wawa Etnika.

Manik-manik, tenun, dan sulam tidak hanya menjadi bahan untuk menghasilkan produk. Bagi Siti, ketiganya menjadi cara untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah melalui karya yang dapat digunakan dan dinikmati oleh masyarakat.

Perjalanan Wawa Etnika pun menjadi gambaran bahwa pertumbuhan usaha tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Ada keberanian untuk memulai, kemauan untuk belajar, kesempatan untuk memperluas jejaring, serta konsistensi untuk terus mengembangkan apa yang telah dimiliki.

Dari modal sekitar Rp5 juta pada 2017, Siti kini memiliki usaha yang terus ia kembangkan. Dari mengerjakan hampir seluruh proses seorang diri, kini ia memiliki kesempatan melibatkan masyarakat sekitar ketika permintaan meningkat.

Setiap manik yang dirangkainya menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Merangkai budaya, merangkai peluang dan perlahan, merangkai mimpi agar tumbuh bersama.

Editor : Wawan
PLN UID Balikpapan PLN UID