Oleh: Indra Zakaria
Ada sesuatu yang keliru jika kemenangan Kalimantan Timur di MTQ XXXI Semarang hanya dibaca dari papan skor.
288 poin.
Angka itu menempatkan Kalimantan Timur sebagai juara umum MTQ XXXI yang berlangsung di Semarang, 11–20 September 2026. Jawa Tengah berada di posisi kedua dengan 208 poin, sementara DKI Jakarta di posisi ketiga dengan 129 poin.
Selesai.
Begitulah kira-kira cara sebuah kompetisi sering diberitakan. Siapa juaranya, berapa poinnya, siapa yang berada di posisi kedua dan ketiga. Padahal, 288 poin itu tidak pernah lahir di Semarang.
Semarang hanyalah tempat memanen sesuatu yang sudah ditanam jauh sebelum malam pengumuman pemenang dibacakan.
Baca Juga: Debut Manis Wakil Kaltim di MTQ Nasional 2026: Hakim dan Aidillah Sukses Kawinkan Gelar Juara I KTIQ
Di balik angka itu ada berbulan-bulan latihan. Ada pelatih yang berulang kali membenahi bacaan anak didiknya. Ada peserta yang harus mengulang hafalan, memperbaiki suara, menjaga napas, memperhalus lagu, memahami tafsir, mengasah kemampuan menulis, sekaligus belajar mengendalikan kegugupan.
“Pasti gugup, cemas. Itu wajar. Pelatihlah yang banyak memberikan pendampingan dan motivasi,” kata Erman Al-Hafiz, pelatih cabang tahfiz dan tafsir. "Zohir dan batin siap. Peran pelatih ada pada dua duanya dan sangat besar," kata M Apdan, peserta.
Dan jangan lupa, ada LPTQ yang bekerja menyiapkan semuanya. Ada pula peserta yang pada akhirnya harus berdiri sendirian di atas panggung, berhadapan dengan dewan hakim, sementara hasil kerja berbulan-bulan dipertaruhkan dalam hitungan menit.
Saya melihat sedikit dari proses itu. Empat hari di Semarang mengubah cara saya melihat MTQ. “Ini ilmu baru,” kata saya kepada Ustaz Khairi Lubis, pelatih yang sudah belasan tahun melatih kafilah Kaltim.
Baca Juga: Elegan dan Berkarakter, Busana Motif Batik Dayak Kafilah Kaltim Curi Perhatian di MTQ XXXI Semarang
Ternyata Tidak Sesederhana Itu
Empat hari di Semarang, saya berbicara dengan peserta, berbincang dengan pelatih, ngobrol dengan panitia dan kawan-kawan LPTQ Kaltim. Sebelumnya, saya mungkin termasuk orang yang melihat MTQ dari hasil akhirnya.
Peserta tampil.
Nilai keluar.
Juara diumumkan.
Pulang, bagi-bagi bonus, diberitakan.
Selesai.
Ternyata tidak sesederhana itu. "Nggak begitu, Ustaz," sergah Ustaz Khairi menanggapi kepolosan saya. "Eh... bentar, Pak Khairi. Saya bukan ustaz. Kalaupun ada janggut, ini cuma janggut biologis," potong saya sambil tertawa.
Dari cerita para pelatih dan peserta, saya mulai memahami bahwa panggung MTQ hanyalah ujung dari sebuah proses yang panjang. Berbulan-bulan.
Di atas panggung, seorang peserta mungkin hanya mendapatkan waktu beberapa menit.
Lima menit, misalnya.
Ada lampu hijau, kuning dan merah. Ketika lampu merah menyala, ada tanda waktu hampir habis. Bacaan harus diselesaikan dengan baik. Qari juga harus memahami kapan harus berhenti, karena kesalahan waqaf pun bisa memengaruhi nilai.
Beberapa menit itu menjadi sangat menentukan.
Padahal, untuk mendapatkan beberapa menit penampilan tersebut, seorang peserta bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berlatih.
Dan ironisnya, kerja berbulan-bulan itu dapat terganggu oleh satu kesalahan kecil. Saya melihat sendiri bagaimana beratnya tekanan itu.
“Padahal di Ujungnya Aja Lagi”
Seorang peserta Kaltim, qari yang pernah meraih juara di luar negeri, harus menerima kenyataan tersingkir setelah melakukan kesalahan membaca pada satu ayat di bagian akhir penampilannya.
Wajahnya murung.
Penyesalannya begitu terasa.
“Saya merasa nyesal sekali, padahal di ujungnya aja lagi.”
Kalimat itu terus terngiang. Padahal di ujungnya aja lagi. Coba bayangkan.
Betapa dekatnya seorang peserta dengan hasil yang diharapkan. Tetapi betapa tipis pula jarak antara keberhasilan dan kegagalan.
Bagi penonton, mungkin itu hanya satu kesalahan membaca. Bagi peserta, itu bisa menjadi beban yang dibawa pulang. Di MTQ, kesalahan kecil bisa terasa sangat besar. Dan di situlah saya mulai melihat sisi lain dari MTQ.
Kita Hanya Lihat Beberapa Menit
Kita melihat qari membaca dengan suara indah.
Kita mendengar hafiz melanjutkan ayat demi ayat.
Kita menyaksikan mufassir menjelaskan kandungan Al-Qur’an.
Kita melihat kaligrafer menghasilkan karya.
Kemudian kita melihat pemenang berdiri dengan piala. Tetapi kita jarang melihat kegelisahan sebelum tampil. Kita tidak melihat berapa kali bacaan itu diulang. Kita tidak melihat berapa kali pelatih menghentikan latihan hanya karena satu kesalahan. Kita tidak merasakan ketegangan ketika peserta menunggu namanya dipanggil.
Dan kita tidak tahu apa yang bergemuruh di dada seorang peserta ketika ia menyadari telah melakukan kesalahan di panggung.
Karena itu, MTQ tidak semata-mata kompetisi kemampuan. Ia juga merupakan ujian ketahanan mental. Dan ketahanan mental tidak muncul dalam satu malam.
Ada satu hal lain yang menarik perhatian saya selama berada di Semarang. Peserta memang yang tampil. Tetapi pelatih juga ikut merasakan tekanan. Khairi Lubis mengatakan, tidak gampang menyiapkan anak didiknya agar mampu tampil maksimal.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi kalau memahami prosesnya, kalimat tersebut mengandung pekerjaan yang luar biasa besar. Pelatih bukan hanya mengajarkan teknik. Pelatih harus mengetahui karakter anak didiknya. Harus tahu kapan mendorong dan kapan menenangkan. Harus tahu kelemahan suara. Harus tahu bagian bacaan yang rawan salah. Harus memahami bagaimana menjaga performa. Dan ketika peserta berdiri di panggung, pelatih hanya bisa melihat.
Deg-degan.
Tidak bisa ikut membantu.
Tidak bisa membetulkan.
Tidak bisa mengulang waktu.
Selesai.
Karena itu, ketika anak didiknya berhasil, kebahagiaan seorang pelatih bukan sekadar melihat nama peserta masuk daftar juara. Ada kepuasan karena kerja kerasnya menemukan pembuktian.
Dan tentu saja, ketika seorang peserta gagal, pelatih pun tidak serta-merta bisa menganggap semuanya selesai. Sebab di belakang satu penampilan ada proses panjang yang sudah mereka jalani bersama.
Bukan Hanya Satu Cabang
Penting untuk melihat bagaimana 288 poin itu terbentuk. Kaltim tidak bertumpu pada satu jenis kemampuan. Di seni baca Al-Qur’an, misalnya, Kaltim mencatat sejumlah prestasi penting.
Dikutip dari Prokal.co, Ahmad Fatih Nawaf Al-Fayadh menjadi Terbaik 1 Tartil Al-Qur’an Murattil. Asri Wahyuni menjadi Terbaik 1 Tilawah Anak-Anak Qari’ah. Achmad Fadhil menjadi Terbaik 2 Tilawah Remaja Qari’. Nadita Nsyah Fitri menjadi Terbaik 2 Tilawah Dewasa Qari’ah. Zamrin Habib menjadi Terbaik 2 Tilawah Disabilitas Netra Qari’.
Di cabang qira’at, Muhammad Rifqi Rizal menjadi Terbaik 1 Murattal Remaja. Muhammad Abdan dan Zalfa Sy. masing-masing meraih Terbaik 2 pada Murattal Dewasa. Lalu datang kekuatan dari cabang hafalan.
Muhammad Rasky Raehan menjadi Terbaik 1 Hafizh 10 Juz. Muhammad Haikal Al Ghifari menjadi Terbaik 1 Hafizh 30 Juz. Nita Rahmatiah menjadi Terbaik 1 Hafizhah 5 Juz. Tsurayya Aniqa menjadi Terbaik 1 Hafizhah 20 Juz.
Ini bukan sekadar kumpulan nama. Ini menunjukkan bahwa pembinaan tidak berhenti pada satu bidang.
Bumi Etam juga berbicara di tafsir, fahm, syarh, kaligrafi dan karya tulis ilmiah. Pada Syarh Al-Qur’an, regu pria dan regu wanita Kaltim sama-sama menjadi Terbaik 1. Di Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an, Hakim Maulana menjadi Terbaik 1 Penulis Pria dan Nur Aidila Fitria menjadi Terbaik 1 Penulis Wanita.
Di cabang kaligrafi, Kaltim juga menghasilkan sejumlah juara pertama, antara lain Nur Anisa, Syarli Baizura Sajidah, Defri Dwi Saputra, Mita Agusmi Elvia dan Muclisin. Jadi, kalau ada yang bertanya apa yang membuat Kaltim mendapatkan 288 poin, jawabannya tidak bisa hanya menunjuk satu peserta.
Ini adalah ekosistem.
Sorotan utama tentu saja jatuh kepada peserta.
Itu wajar.
Nama mereka yang diumumkan.
Wajah mereka yang tampil.
Piala diberikan kepada mereka.
Tetapi sebuah prestasi besar hampir tidak pernah merupakan pekerjaan satu orang.
Ada keluarga yang memberi ruang dan dukungan.
Ada guru yang menemukan bakat.
Dan tentu pelatih yang mengasah kemampuan.
Dan tentu ada LPTQ Kaltim yang membangun sistem pembinaan dan mengelola perjalanan kafilah.
Ada orang-orang yang bekerja di belakang panggung dan namanya mungkin tidak pernah disebut ketika piala diangkat. Karena itu, ketika Kaltim menjadi juara umum, yang layak mendapatkan apresiasi bukan hanya mereka yang membawa pulang predikat Terbaik 1. Seluruh proses pembinaan layak dihargai.
Termasuk mereka yang tidak pulang membawa piala. Mereka tetap bagian dari perjalanan.
Tetapi justru setelah kemenangan inilah pekerjaan berikutnya dimulai.
Juara umum tentu berita baik.
Tiga piala juara umum boleh saja dipajang di ruang tamu LPTQ.
Tetapi mempertahankan tradisi prestasi jauh lebih menantang.
Pembinaan harus tetap berjalan ketika panggung sudah dibongkar. “Desember ini kita mulai lagi,” kata Sri Wahyuni, Ketua LPTQ Kaltim, didampingi Dasmiah, Wakil Ketua II LPTQ Kaltim.
Kalimat itu menarik. Sebab bagi mereka yang berada di dalam proses, kemenangan di Semarang bukan garis akhir. Anak-anak yang hari ini menang harus tetap dibina. Yang belum berhasil harus tetap didampingi. Bakat-bakat baru dari kabupaten dan kota harus terus dicari. Pelatih harus terus diperkuat. Metode pembinaan harus terus dievaluasi.
LPTQ harus memastikan bahwa prestasi bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari sistem yang konsisten. Sebab juara umum bukan tujuan akhir pembinaan Al-Qur’an. Ia adalah salah satu hasil dari proses pembinaan.
Ada satu hal yang menurut saya lebih penting daripada piala yang dibawa pulang dari Semarang.
Memastikan bahwa semangat yang menghasilkan piala itu tidak ikut ditinggalkan di Semarang. Kita bisa menyimpan piala di lemari. Kita bisa menyimpan foto kemenangan (dengan busana kafilah Kaltim yang sangat saya puji desain dan keindahan serta kecantikannya).
Video yel-yel bersama gubernur bisa diunggah di media sosial. Pengalungan bunga di bandara bisa mendapatkan banyak tanda suka. Kita bisa mengingat angka 288.
Tetapi jika pembinaan berhenti, angka itu perlahan hanya akan menjadi sejarah. Sebaliknya, jika proses terus dirawat, 288 poin bukan sekadar angka kemenangan. Ia menjadi bukti bahwa kerja keras yang dilakukan secara serius, terencana dan berkelanjutan dapat menghasilkan prestasi.
Pulang, Pandangan Berbeda
Minggu, 20 September, saya pulang dengan pandangan yang berbeda. Empat hari mungkin bukan waktu yang panjang. Tetapi cukup untuk membuat saya melihat MTQ dari sisi yang berbeda.
Saya melihat peserta yang tegang.
Saya melihat pelatih yang ikut berdebar.
Saya melihat pelatih yang galau sambil mengisap rokok di balkon hotel.
Saya melihat kebahagiaan ketika anak didik berhasil.
Saya melihat kekecewaan ketika sesuatu yang sudah dipersiapkan begitu lama tidak berjalan sesuai harapan.
Dan saya melihat bagaimana sebuah kafilah bekerja sebagai satu tim.
Karena itu, ketika akhirnya Kaltim ditetapkan sebagai juara umum dengan 288 poin, saya tidak lagi melihat angka itu sebagai angka semata. Saya melihat wajah-wajah di baliknya.
Saya melihat latihan.
Saya melihat senyum pahit kegagalan.
Saya melihat koreksi.
Saya melihat kesabaran.
Saya melihat kecemasan.
Saya melihat doa.
Dan saya melihat kerja bersama.
288 poin itu tidak lahir dalam sepuluh hari di Semarang.
288 poin lahir dari bulan-bulan yang tidak terlihat oleh publik.
Dari ruang-ruang latihan.
Dari suara pelatih yang berkali-kali mengoreksi.
Dari peserta yang berkali-kali mencoba.
Dari kekecewaan yang harus ditelan.
Dari keberanian untuk mencoba lagi.
Dan akhirnya, dari keberanian berdiri di atas panggung ketika seluruh mata tertuju kepada mereka.
Maka, selamat Kaltim.
Bukan hanya karena menjadi juara umum.
Tetapi karena di balik juara itu ada proses yang pantas dihargai.
Dan untuk para peserta yang belum berhasil, bersemangatlah, Anda boleh kalah di panggung, tapi tidak berarti kalah dalam perjuangan.
Pada akhirnya, MTQ bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling tinggi di podium.
Ia juga tentang siapa yang bersedia terus belajar, terus berlatih, dan terus menjaga kecintaan kepada Al-Qur’an setelah lampu panggung dimatikan. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co