SAMARINDA — Dampak fenomena El Nino yang memicu musim kemarau berkepanjangan kini kian nyata mengancam ketahanan pangan di Kalimantan Timur. Tanaman pangan dan hortikultura yang menjadi tumpuan utama ketersediaan pangan daerah mulai mengalami penurunan produktivitas akibat kekurangan pasokan air.
Hingga pertengahan September 2026, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim mencatat sekitar 2.620 hektare lahan pertanian di berbagai wilayah telah terdampak kekeringan. Sebagian besar lahan masih berada dalam kategori terdampak ringan hingga sedang, tetapi sekitar 670 hektare lainnya masuk dalam kategori berat. Bahkan, seluas 333 hektare lahan dilaporkan telah mengalami puso atau gagal panen.
Kondisi terparah melanda kawasan-kawasan yang selama ini menjadi pusat produksi pangan daerah. Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi wilayah yang paling terdampak, disusul oleh Kabupaten Paser dan Kabupaten Penajam Paser Utara. Ketergantungan lahan lumbung pangan terhadap sistem pertanian tadah hujan membuat wilayah-wilayah tersebut sangat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Kondisi kekeringan ini sebenarnya sudah menunjukkan eskalasi sejak bulan sebelumnya. Pada Agustus 2026, total lahan pertanian yang terdampak bahkan sempat menyentuh angka 2.730 hektare, dengan area gagal panen yang tersebar di Paser, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, Penajam Paser Utara, hingga Mahakam Ulu.
Ancaman ini diperkirakan belum akan usai dalam waktu dekat. Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), meski hujan berpotensi turun pada Oktober, curah hujan yang dihasilkan diperkirakan masih berada di bawah rata-rata normal. Kondisi yang lebih basah baru diprediksi terjadi pada November, namun durasinya tidak bertahan lama karena pengaruh El Nino diperkirakan berlanjut hingga awal tahun 2027.
Guna mengantisipasi dampak yang makin meluas terhadap stok pangan daerah, pemerintah provinsi bersama pihak terkait terus menggencarkan berbagai langkah mitigasi. Salah satu upaya utama yang dilakukan adalah mengimbau para petani untuk beralih menggunakan varietas padi berumur genjah yang lebih toleran terhadap kelangkaan air, seperti jenis Inpari dan Inpara.
Selain penyesuaian varietas tanaman, optimalisasi sarana pengairan juga menjadi fokus perhatian. Ratusan unit bantuan pompa air yang telah disalurkan ke kelompok-kelompok tani—termasuk bantuan dari pemerintah pusat dan daerah—terus disiagakan di lapangan. Untuk mendukung operasional mesin pengisap air tersebut, pemerintah daerah turut menyiapkan bantuan bahan bakar minyak secara terbatas.
Pemerintah Provinsi Kaltim juga menekankan pentingnya evaluasi penempatan sarana pengairan. Jika ditemukan kelompok tani yang sangat membutuhkan air tetapi belum menguasai peralatan, skema redistribusi atau pemindahan pompa air akan segera dilakukan. Langkah ini diambil agar seluruh bantuan peralatan pengairan dapat dimanfaatkan secara maksimal dan tepat sasaran demi menyelamatkan sektor pertanian Kaltim dari krisis air. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co