Pesan itu disampaikan Ace Hasan di hadapan sekitar 1.000 mahasiswa Unmul yang memenuhi GOR 27 September Unmul, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (22/9/2026). Kehadiran Lemhannas di Unmul merupakan bagian dari agenda nasional Lemhannas Goes to Campus.
Menurut Ace Hasan, generasi mahasiswa saat ini akan berada di posisi penting ketika Indonesia memasuki usia satu abad kemerdekaan. “Di tangan adik-adik mahasiswa, 19 tahun yang akan datang Indonesia akan menentukan arah. Apakah kita menjadi negara maju atau justru menjadi bangsa yang biasa-biasa saja,” kata Ace Hasan.
Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini berbeda dengan tantangan pada masa perjuangan kemerdekaan. Jika generasi terdahulu berjuang dengan kekuatan fisik dan senjata sederhana, generasi sekarang menghadapi persaingan yang berlangsung di berbagai bidang.
Perubahan tersebut, kata dia, mencakup geopolitik, geoekonomi, teknologi, kecerdasan buatan, hingga keamanan siber. “Kita tidak boleh tertinggal di tengah perubahan tersebut. Kalau kita tertinggal, berarti kita tidak akan pernah menjadi bagian dari pelaku sejarah,” ujarnya.
Ace Hasan mengatakan, Indonesia saat ini berada di tengah persaingan kekuatan besar dunia. Amerika Serikat, China, dan Rusia memiliki pengaruh besar dalam dinamika global. Sementara Indonesia, menurut dia, berada pada posisi sebagai kekuatan menengah yang memiliki arti penting dalam percaturan dunia.
Persaingan global, lanjut dia, tidak hanya berlangsung dalam hubungan antarnegara. Perebutan pengaruh juga terjadi melalui teknologi dan ruang digital. Kehadiran kecerdasan buatan dan media sosial, misalnya, telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi sekaligus menghadirkan tantangan baru mengenai keamanan data dan informasi.
“Ketika adik-adik mahasiswa memiliki akun media sosial, secara tidak sadar adik-adik telah menyerahkan data pribadi kepada pemilik media sosial tersebut,” kata Ace Hasan. Karena itu, ia meminta mahasiswa tidak melihat perkembangan teknologi hanya sebagai bagian dari gaya hidup. Ruang digital juga merupakan bagian dari arena persaingan strategis antarnegara.
Menurut dia, geopolitik kini tidak hanya berada di ruang diplomasi atau pertahanan. Geopolitik juga hadir di ruang kelas, laboratorium, pusat riset, perusahaan rintisan, hingga perangkat telepon yang digunakan sehari-hari. Ace Hasan kemudian mengutip pemikiran Thomas Friedman mengenai geopolitik sebagai perebutan pengaruh. Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat kepentingan dan identitas nasional sebagaimana dikemukakan Samuel Huntington. “Kalau kita ingin berpengaruh di dunia, kepentingan nasional dan identitas nasional kita harus tetap kita perkuat,” ujarnya.
Potensi Strategis Indonesia
Ace Hasan juga mengingatkan mahasiswa mengenai posisi geografis Indonesia yang sangat strategis dalam perdagangan dunia. Ia mencontohkan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting rantai pasok energi dunia. Menurut dia, Indonesia juga memiliki jalur strategis yang memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan internasional, salah satunya Selat Malaka.
Posisi geografis tersebut, kata dia, merupakan salah satu modal strategis Indonesia untuk memainkan peran lebih besar dalam percaturan global.
“Kalau kita lihat betapa strategisnya Indonesia, tanpa Indonesia saya kira perdagangan dunia pasti akan menjadi bagian yang terganggu,” katanya. Namun, posisi strategis tersebut harus diikuti kemampuan bangsa dalam mengelola sumber daya manusia, sumber daya alam, teknologi, serta kekuatan nasional.
Karena itu, perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam memperkuat ketahanan nasional. Lemhannas, kata Ace Hasan, menjadikan kunjungan ke kampus sebagai salah satu upaya memperluas pemahaman mengenai ketahanan nasional di kalangan generasi muda. “Ketahanan nasional adalah jembatan menuju kekuatan dan kemajuan bangsa,” ujarnya. Agenda Lemhannas Goes to Campus di Unmul kali ini mengangkat tema “Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Menjawab Tantangan Global dan Pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur.”
Dalam kegiatan tersebut, hadir Sekretaris Utama Lemhannas Komisaris Jenderal Polisi Gatot Tri Suroyo, Deputi Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Mayor Jenderal TNI Raden Zainuddin Slamet, serta Direktur Sosialisasi dan Pengembangan Media Sosial Lemhannas Brigadir Jenderal Polisi Syahrir.
Hadir pula jajaran Unmul dan sejumlah pejabat Lemhannas. Dalam kesempatan tersebut juga direncanakan penandatanganan nota kesepahaman antara Lemhannas dan Unmul.
Unmul Siapkan SDM untuk IKN
Rektor Unmul Prof Dr Ir Abdunnur mengatakan, perguruan tinggi di Kalimantan Timur memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga stabilitas nasional sekaligus mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Unmul, kata Abdunnur, memiliki sekitar 35.000 mahasiswa yang tersebar dalam 114 program studi. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sekaligus nilai kebangsaan. “Kami ingin menghasilkan lulusan yang berintegritas dan memiliki nilai-nilai kebangsaan, selain memiliki keunggulan dalam teknologi informasi dan sains,” kata Abdunnur.
Menurut dia, penguatan nilai kebangsaan penting agar mahasiswa memiliki ketahanan terhadap berbagai paham yang dapat mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Selain menyiapkan sumber daya manusia, Unmul juga telah terlibat langsung dalam pembangunan IKN.
Prof Abdunnur mengatakan Unmul menjadi salah satu perguruan tinggi pertama yang menjalin kerja sama dengan Otorita Ibu Kota Nusantara. Kerja sama tersebut diwujudkan antara lain melalui pengembangan kawasan seluas sekitar 37 hektare sebagai education center sekaligus living laboratory.
Kawasan tersebut dikembangkan sebagai ruang pendidikan, penelitian, inovasi, serta pengembangan dan rehabilitasi ekosistem hutan tropis di kawasan IKN. “Kami sudah hadir di Ibu Kota Nusantara,” ujar Abdunnur. Menurut dia, keberadaan kawasan tersebut menjadi bagian dari kontribusi Unmul dalam mendukung pembangunan IKN melalui pendidikan, penelitian, dan inovasi.
Bagi Unmul, pembangunan IKN tidak hanya membutuhkan infrastruktur fisik, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengisi dan mengembangkan pusat pemerintahan serta pusat pertumbuhan baru tersebut.
Karena itu, perguruan tinggi di Kalimantan Timur, kata Abdunnur, perlu memperkuat kolaborasi untuk memastikan pembangunan IKN berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan nilai kebangsaan. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co