PROKAL.CO, SAMARINDA — Dua gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Deo dan Sinta, kini telah lebih dari sebulan menghuni Tabang Zoo, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Keduanya merupakan gajah dari Gembira Loka Zoo, Yogyakarta, yang dipindahkan ke Kalimantan Timur karena kondisi penampungan gajah di Jakarta yang mengalami kelebihan kapasitas.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur M Ari Wibawanto mengatakan, berdasarkan pemantauan, kondisi Deo dan Sinta saat ini sehat dan dapat beraktivitas secara normal di tempat barunya.
Pemindahan kedua gajah tersebut, kata dia, dilakukan setelah melalui kajian bersama sejumlah pihak, termasuk peneliti gajah dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Kita mencari lokasi atau tempat, gajahnya jinak yang bisa melakukan perawatan dengan baik. Salah satunya Tabang Zoo," ujar Ari.
Menurut dia, persiapan pemindahan tidak hanya menyangkut ketersediaan kandang. Karakteristik fisik dan kebiasaan masing-masing gajah juga menjadi pertimbangan dalam menyiapkan tempat baru.
Sebelum diberangkatkan dari Gembira Loka, berbagai informasi mengenai Deo dan Sinta dikaji, mulai dari tinggi dan ukuran tubuh hingga kebiasaan sehari-hari.
Kandang di Tabang Zoo kemudian disesuaikan dengan morfologi dan perilaku kedua gajah tersebut. Termasuk kebutuhan terhadap kolam untuk berenang serta fasilitas yang memungkinkan gajah melakukan aktivitas sesuai kebiasaannya.
"Misalkan Deo dan Sinta biasa berenang pada jam tertentu dan kedalaman kolam segini. Semuanya disesuaikan, baik itu badannya, morfologi maupun sifat-sifatnya," katanya.
Begitu pula dengan kebiasaan Deo menggesekkan tubuhnya pada batang kayu. Fasilitas serupa disediakan agar kebutuhan perilaku alaminya tetap dapat dilakukan.
BKSDA Kaltim menyebut Tabang Zoo telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan untuk menjadi lokasi penempatan kedua gajah tersebut.
Pemindahan dari Yogyakarta ke Kalimantan Timur dilakukan melalui perjalanan darat dan laut setelah mendapatkan persetujuan Kementerian Kehutanan.
Setelah tiba di Tabang Zoo, kondisi Deo dan Sinta terus dipantau. Perawatan dilakukan dengan melibatkan mahout atau pawang yang telah mengenal karakter kedua gajah sejak berada di Gembira Loka.
BKSDA Kaltim juga memastikan ketersediaan tenaga medis untuk mendukung perawatan satwa tersebut. "Yang jelas dilakukan perawatan semaksimal mungkin dan dipantau terus setiap hari. Kami memiliki dokumen-dokumen kesehatan," ujarnya.
Menurut dia, keberadaan mahout yang sudah mengenal Deo dan Sinta menjadi salah satu faktor penting dalam proses adaptasi. Selain itu, Tabang Zoo memiliki lima personel dokter hewan yang dapat mendukung pemantauan kesehatan kedua gajah.
Dengan kondisi tersebut, BKSDA Kaltim menilai proses adaptasi Deo dan Sinta sejauh ini berjalan baik.
Terkait kemungkinan Deo dan Sinta suatu saat direhabilitasi untuk kemudian dilepasliarkan ke habitat alami, BKSDA Kaltim mengatakan hal tersebut tidak dapat dilakukan secara terburu-buru.
Rehabilitasi gajah untuk kembali ke alam membutuhkan waktu panjang dan kajian yang komprehensif. Kondisi fisik, morfologi, perilaku, serta kemampuan satwa untuk bertahan di alam harus menjadi pertimbangan.
"Kalau melihat apakah kita bisa merehabilitasi gajah, membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi tidak serta-merta. Kita lihat perkembangan di sana," katanya.
Menurut dia, kemungkinan lain dapat terbuka apabila Deo dan Sinta berkembang biak. Jika nantinya lahir anak dari kedua gajah tersebut, keturunannya berpeluang untuk dipertimbangkan dalam program pelepasliaran.
Namun, rencana tersebut tetap membutuhkan kajian lebih lanjut dari para ahli.
"Kalau misalkan ada bayi lahir dari Sinta dan Deo, keturunannya bisa dilepasliarkan. Tapi yang jelas melakukan kegiatan itu perlu kajian, baik itu fisik dan morfologi. Tidak bisa sembarangan," ujarnya.
Ia menegaskan, setiap keputusan terkait masa depan Deo dan Sinta harus mempertimbangkan aspek kesejahteraan satwa dan hasil kajian ilmiah.
"Memerlukan masukan para ahli," katanya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co