Bukan Sekadar Cari Juara, Pentas PAI PPU Jadi Ruang Bentuk Karakter Anak di Era Digital

Wawan • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 15:05 WIB
Bagi Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), kegiatan seperti Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI) justru menjadi ruang penting untuk membentuk karakter anak sejak usia sekolah dasar.
Bagi Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), kegiatan seperti Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI) justru menjadi ruang penting untuk membentuk karakter anak sejak usia sekolah dasar.

 

PROKAL.co, PENAJAM – Kompetisi pendidikan agama tidak semestinya hanya berujung pada piala dan gelar juara. Bagi Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), kegiatan seperti Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI) justru menjadi ruang penting untuk membentuk karakter anak sejak usia sekolah dasar.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati PPU Abdul Waris Muin saat membuka Pentas PAI tingkat SD se-Kecamatan Penajam Tahun 2026 di SDIT Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Selasa (20/9/2026).

Menurut Abdul Waris, pendidikan agama memiliki tantangan tersendiri di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang berlangsung cepat. Anak-anak saat ini tumbuh dengan akses informasi yang semakin luas sehingga membutuhkan fondasi moral dan nilai agama sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, saya sangat menyambut baik serta mendukung diselenggarakannya kegiatan Pentas Pendidikan Agama Islam tingkat sekolah dasar se-Kecamatan Penajam. Kegiatan ini bukan hanya ajang perlombaan untuk meraih juara, melainkan wadah yang sangat strategis dalam membina karakter, mengasah potensi, serta menanamkan nilai keagamaan sejak dini,” ujarnya.

Ia menilai kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk membentuk generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman. Pendidikan juga harus membangun sikap, moral dan akhlak agar anak memiliki pegangan dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Karena itu, nilai-nilai keagamaan diharapkan tidak hanya dipahami sebagai materi pembelajaran, tetapi juga diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Abdul Waris menyebut pembelajaran dasar seperti tata cara berwudu, salat, membaca doa hingga hafalan surat-surat pendek merupakan bagian penting dalam membangun kebiasaan positif sejak dini.

Ia pun mengingatkan para peserta agar tidak terlalu terbebani dengan target menjadi juara. Menurutnya, keberanian tampil, kejujuran dan kemauan untuk terus belajar justru menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

“Menang atau kalah dalam sebuah kompetisi adalah hal yang biasa. Namun, keberanian untuk tampil, kejujuran dan semangat belajar adalah kemenangan yang sesungguhnya,” katanya.

Pesan tersebut disampaikan agar para siswa dapat menikmati proses kompetisi sekaligus menjadikannya sebagai pengalaman untuk mengembangkan kemampuan dan kepercayaan diri.

Bagi siswa yang berhasil menjadi juara, capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi untuk terus belajar. Sementara bagi yang belum berhasil, pengalaman mengikuti kompetisi tetap menjadi bagian dari proses pembentukan mental dan keberanian.

Abdul Waris juga memberikan apresiasi kepada para guru dan orang tua yang selama ini menjadi bagian penting dalam proses pendidikan anak.

Menurutnya, pembentukan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Peran keluarga dan lingkungan juga dibutuhkan agar nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia secara khusus meminta para guru agama untuk terus memberikan bimbingan kepada peserta didik. Nasihat dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dinilai dapat membantu anak memahami bahwa pendidikan agama bukan sekadar teori.

Abdul Waris juga berharap dukungan terhadap kegiatan pendidikan agama Islam dapat terus ditingkatkan. Salah satunya melalui dukungan anggaran untuk kegiatan serupa di tingkat kabupaten maupun pelaksanaan pada tahun-tahun berikutnya.

Menurutnya, investasi pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga bagaimana membentuk kualitas generasi yang akan menjadi penerus pembangunan daerah.

Pentas PAI tingkat SD se-Kecamatan Penajam Tahun 2026 kemudian resmi dibuka. Para siswa mengikuti kegiatan tersebut dengan membawa kemampuan dan kreativitas masing-masing di bidang pendidikan agama.

Pemkab PPU berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan siswa yang tidak hanya berprestasi dalam kompetisi, tetapi juga memiliki karakter kuat, memahami nilai agama dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, generasi yang dibutuhkan bukan hanya anak yang pintar, tetapi juga memiliki kejujuran, keberanian, keimanan dan akhlak yang baik. (bs/adv)

Editor : Wawan
ADV PEMKAB PPU pemkab ppu