Bulog Kaltimtara Serap 19.500 Ton Beras, PPU Jadi Penyumbang Terbesar

Wawan • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 21:13 WIB
Bulog Kaltimtara saat tasyakuran realisasi penyerapan mencapai 4.115.014 ton setara beras atau 102,88 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton.
Bulog Kaltimtara saat tasyakuran target pengadaan nasional sebesar 4 juta ton.

 

PROKAL.co, BALIKPAPAN – Perum Bulog mencatat sejarah baru dalam pengadaan beras nasional. Hingga 8 Oktober 2026, realisasi penyerapan mencapai 4.115.014 ton setara beras atau 102,88 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton.

Capaian tersebut turut ditopang oleh Kantor Wilayah Bulog Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimtara), yang membukukan pengadaan sekitar 19.500 ton. Angka itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 9.000 ton.

Kepala Perum Bulog Kanwil Kaltimtara, Musazdin Said, mengatakan target pengadaan nasional sebesar 4 juta ton sebenarnya telah tercapai pada akhir September. Penyerapan kemudian terus bertambah hingga awal Oktober.

“Berdasarkan data per akhir September, sebenarnya kita sudah mencapai 4 juta ton. Namun, untuk pembaruan sampai 9 Oktober, serapan kita sudah mencapai 4,11 juta ton,” ujarnya seusai syukuran pencapaian pengadaan Bulog di Balikpapan, Jumat (9/10/2026).

Musazdin menjelaskan, capaian nasional tersebut ditopang produksi dari sejumlah wilayah sentra pertanian, di antaranya Jawa, Palembang dan Lampung, Nusa Tenggara Barat, serta Sulawesi Selatan.

Hingga Agustus 2026, Bulog telah menyerap sekitar 3,6 juta ton beras. Penyerapan berlanjut dalam dua bulan berikutnya, ketika musim kemarau dan dampak kekeringan mulai dirasakan di sejumlah daerah sejak akhir Agustus.

“Sampai bulan Agustus saja, kita sebenarnya sudah menyerap 3,6 juta ton. Sisa serapan sekitar 400.000 hingga 500.000 ton ini kita dapatkan dalam dua bulan terakhir,” katanya.

Di wilayah Kaltimtara, peningkatan pengadaan dinilai menjadi perkembangan positif di tengah keterbatasan produksi lokal. Musazdin mengakui, kontribusi kedua provinsi itu terhadap pengadaan nasional masih relatif kecil karena bukan merupakan sentra utama produksi padi.

Kondisi tanah di Kalimantan yang berbeda dengan wilayah Jawa menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan produksi pertanian. Meski demikian, Bulog Kaltimtara terus mengoptimalkan penyerapan hasil panen dari daerah yang memiliki potensi produksi.

“Kaltim dan Kaltara bukanlah daerah sentra produksi utama. Masih banyak kendala, terutama kondisi tanah di Kalimantan yang berbeda dengan di Jawa. Saat ini kontribusinya masih relatif kecil,” tuturnya.

Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tercatat sebagai penyumbang serapan terbesar di wilayah kerja Bulog Kaltimtara. Berikutnya, pengadaan berasal dari Kutai Kartanegara melalui wilayah kerja Bulog Samarinda, kemudian Kabupaten Berau.

Sementara itu, penyerapan di Kalimantan Utara terutama berasal dari Kabupaten Nunukan, disusul sebagian kecil dari Kabupaten Bulungan.

Untuk memperbesar produksi sekaligus memperluas potensi penyerapan beras petani, Musazdin berharap program Kementerian Pertanian, seperti optimalisasi lahan dan cetak sawah, dapat terus berlanjut.

Bulog Kaltimtara juga menyampaikan rencana pengembangan pertanian modern melalui program yang disebut PMAS. Program tersebut diharapkan mulai memberikan hasil yang bisa diserap pada akhir 2026 atau 2027.

Pengembangan pertanian modern itu mencakup perbaikan benih, penggunaan pupuk dan pestisida, serta dukungan sistem pengairan. Melalui pendekatan tersebut, produktivitas padi di lokasi pengembangan diharapkan meningkat menjadi sekitar 8 ton per hektare, dari tingkat yang saat ini disebut masih berkisar 3–4 ton per hektare.

Musazdin mengatakan lokasi pelaksanaan program masih dalam tahap pemilihan. Berdasarkan koordinasi dengan dinas terkait, Kabupaten Paser dan sebagian wilayah Kutai Kartanegara menjadi daerah yang dipertimbangkan.

“Berdasarkan hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Hortikultura, rencananya akan difokuskan di Kabupaten Paser, dan sebagian lagi di Kabupaten Kutai Kartanegara,” pungkasnya.

Editor : Wawan
bulog