El Nino Ekstrem Cengkeram Kaltim Hingga 2027: Musim Hujan Diprediksi Lebih Singkat

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:12 WIB
Karhutla di Samarinda.
Karhutla di Samarinda.

SAMARINDA – Fenomena El Nino yang melanda wilayah Indonesia pada tahun 2026 ini menunjukkan intensitas yang sangat kuat. Dampaknya terasa kian nyata di Kalimantan Timur dengan memanjangnya durasi musim kemarau. Menanggapi kondisi ekstrem ini, masyarakat beserta jajaran pemangku kepentingan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan penuh serta menyiapkan langkah antisipasi dini dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengungkapkan bahwa indeks El Nino pada awal September 2026 sempat melonjak hingga angka 3,44, dengan rata-rata indeks bulanan berada di level 2,77. Angka tersebut menegaskan betapa dominannya pengaruh El Nino pada tahun ini.

Dalam rilis prediksi musim hujan 2026/2027 Kalimantan Timur yang digelar secara virtual pada Senin (12/10/2026), Djoko menegaskan bahwa dampak kemarau panjang sudah dirasakan secara luas di lapangan. Namun, ia mengingatkan bahwa situasi ini bukan menandakan El Nino akan segera berakhir.

Berdasarkan konsensus prediksi dari 17 badan iklim dunia, fenomena iklim tersebut diperkirakan masih akan bertahan hingga tahun 2027 dan baru berangsur kembali ke kondisi normal pada pertengahan tahun depan, sekitar bulan Mei hingga Juli. Kondisi ini berdampak langsung pada pola musim hujan periode 2026/2027 di Kalimantan Timur, di mana BMKG memperkirakan awal musim hujan di sejumlah wilayah akan mengalami kemunduran. Akibatnya, durasi musim hujan menjadi jauh lebih singkat, meskipun secara umum intensitas curah hujannya berada pada kategori normal.

Perubahan durasi musim hujan yang makin pendek ini menjadi alarm penting, terutama bagi sektor pangan dan pertanian. Djoko mengingatkan para petani untuk segera menyesuaikan pola serta kalender tanam agar tidak mengalami risiko gagal panen. Jika musim hujan hanya berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan, jenis komoditas yang ditanam harus disesuaikan secara cermat dengan memanfaatkan informasi awal musim hujan dari BMKG sebagai dasar perencanaan.

Selain berdampak pada sektor pertanian, masa transisi pergerakan massa udara dari Monsun Australia menuju Monsun Asia juga membawa potensi cuaca ekstrem selama periode pancaroba, seperti ancaman angin kencang dan puting beliung. Oleh karena itu, BMKG meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta instansi terkait untuk merapatkan barisan di lapangan.

Upaya kesiapsiagaan perlu diperkuat guna mengantisipasi berbagai potensi ancaman, mulai dari banjir dan banjir bandang akibat curah hujan tinggi yang datang mendadak, bencana tanah longsor di kawasan perbukitan, hingga ancaman banjir rob yang mengintai wilayah pesisir Kalimantan Timur. Mengakhiri keterangannya, Djoko mengimbau seluruh pihak untuk terus menjadikan pemutakhiran data iklim dan cuaca dari BMKG sebagai rujukan utama dalam menyusun kebijakan maupun mengambil keputusan di berbagai sektor.(*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
el nino kaltim