PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Puja Nur Wahida, mahasiswi Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, begitu antusias menceritakan pengalamannya saat menjadi peserta pertukaran pelajar di Amerika Serikat (AS) di ruang rapat lantai 3 Gedung Biru Kaltim Post Group, Balikpapan, Rabu (14/10/2026) siang.
Satu tahun dia menimba ilmu di Negeri Paman Sam itu. Semua dibiayai Pemerintah AS. Dia menjadi peserta program pertukaran pelajar ini saat masih berstatus siswi di SMAN 1 Balikpapan.
Tak hanya menambah pengetahuannya dalam hal bahasa asing dan materi saat mengikuti aktivitas belajar di negara itu, dia juga dapat banyak pengalaman tinggal bersama warga AS.
Baca Juga: Persiba Balikpapan Tunjuk Yus Arfandy Caretaker, Kapten Abdul Rachman Didapuk Jadi Asisten
Ya, selama mengikuti program pertukaran pelajar di negeri itu pada tahun 2021 lalu, dia tinggal di rumah salah satu keluarga di AS. Meresapi kehidupan sehari-hari warga. Kondisi ini ikut memperluas wawasanya akan banyak hal.
“Keluarga tempat saya tinggal selama di AS sangat pengertian. Karena mereka sudah terbiasa jadi tempat tinggal pelajar atau mahasiswa dari luar negeri sebelumnya,” katanya.
Keluarga tempatnya tinggal punya toleransi tinggi. Misalnya, Puja memberikan daftar hal-hal tertentu yang dia tak biasa dan menjadi kebiasaannya kepada keluarga itu.
Keluarga itu tahu Puja orang Indonesia yang makanan pokoknya adalah nasi, mereka secara khusus membelikan sebuah alat penanak nasi agar bisa menyajikan menu itu kepada tamu mereka.
Selain itu, mereka juga toleransi dengan jenis makanan halal dan nonhalal. Seperti penggunaan alat makan keluarga mereka yang dibedakan dengan yang digunakan Puja.
“Saya sangat dekat dengan keluarga di Amerika tempat saya tinggal dulu. Bahkan setelah program itu, saya diundang lagi ke Amerika pas mereka buat acara dan saya datang. Bahkan nanti, saat saya wisuda rencana tahun depan, mereka rencananya mau datang ke Indonesia. Itu bakal jadi pengalaman pertama mereka ke Indonesia,” katanya.
Tak hanya Puja yang berbagi cerita pengalaman mengikuti pertukaran pelajar di Gedung Biru saat itu. Hadir juga Herawati.
Dia mengikuti program yang berbeda di Amerika. Herawati mengikuti pertukaran pemuda. Untuk program ini syarat khususnya adalah berusia belum 25 tahun.
Dia mengikuti program di negeri itu selama lima minggu. Program pertukaran pemuda ini dalam praktiknya akan berlanjut setelah kembali ke tanah air. Seperti dirinya yang membuat program kesehatan di salah satu puskesmas di Balikpapan.
Baca Juga: Perajin Tempe Muara Jawa Keluhkan Pasokan Kedelai, Rahmat Dermawan Siapkan Pengawalan Aspirasi
Puja dan Herawati saat itu bertandang ke Gedung Biru bersama rombongan dari Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Jakarta. Yakni, John Slover, Public Diplomacy Officer, Kedubes AS. Juga Irmina Reniati, Emerging Voices Exchange Coordinator, Kedubes AS.
Mereka datang khusus untuk memperkenalkan program pertukaran pelajar FLEX Global yang kini membuka kesempatan bagi siswa sekolah menengah dari Indonesia untuk mengikuti pendidikan selama satu tahun di AS.
Program yang didanai dan dikelola Biro Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Luar Negeri AS ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk tinggal bersama keluarga angkat, bersekolah di SMA Amerika, serta mengikuti kegiatan komunitas dan pengembangan kepemimpinan.
Jhon dalam Bahasa Indonesia saat itu memperkenalkan dua program pertukaran pelajar dan pemuda dari Pemerintah AS.
Yakni, Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) dan FLEX Global. Puja dan Herawati adalah alumni YSEALI dan FLEX Global dari Provinsi Kaltim. Program untuk pertukaran pelajar selama satu tahun. Program pertukaran pemuda selama lima minggu di Amerika.
Kata Jhon, FLEX Global merupakan pengembangan dari program Future Leaders Exchange (FLEX) dan Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES).
Pelaksanaannya juga dikoordinasikan American Councils for International Education bersama AFS, Amideast, dan EARN.
Peserta terpilih akan mendapatkan fasilitas berupa tiket perjalanan pulang-pergi, uang saku bulanan, tempat tinggal bersama keluarga angkat, biaya sekolah, orientasi, kegiatan komunitas, serta asuransi kesehatan dengan ketentuan tertentu.
Irmina Reniati menambahkan, pendaftaran program ini tidak dipungut biaya dan dilakukan melalui proses seleksi kompetitif berbasis prestasi.
Pendaftar harus memenuhi persyaratan usia dan kelas, masih terdaftar di sekolah menengah di negara asal, memiliki prestasi akademik yang baik, serta menunjukkan kemampuan Bahasa Inggris.
Selain itu, pendaftar harus memenuhi persyaratan visa AS, merupakan warga negara yang termasuk dalam daftar negara peserta, dan dapat memperoleh paspor internasional dari negara tempat mendaftar.
Indonesia termasuk salah satu negara yang memenuhi persyaratan kewarganegaraan tersebut.
“Proses seleksi meliputi tes Bahasa Inggris, penulisan esai di bawah pengawasan, wawancara dengan staf FLEX Global, serta pengumpulan berkas pendaftaran lengkap,” jelasnya.
Baca Juga: Bus Massal Samarinda Ditarget Meluncur Februari 2027, Dishub Siapkan Ganjil Genap
Dalam proses seleksi juga mempertimbangkan prestasi dan kesiapan peserta mengikuti program pertukaran selama satu tahun.
Kemampuan Bahasa Inggris menjadi salah satu pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya penentu kelulusan. Aneka prestasi yang dimiliki tiap calon peserta saat di sekolah ikut dipertimbangkan penyelenggara.
Peserta terpilih untuk kategori pertukaran pelajar, nantinya akan mengikuti orientasi sebelum keberangkatan di negara asal pada Juni atau Juli, berangkat ke AS pada Agustus, dan kembali ke negara asal pada Mei atau Juni tahun berikutnya sesuai jadwal program. Jadi pendaftaran tahun ini untuk berangkat tahun depan.
Melalui program ini, siswa diharapkan memperoleh pengalaman langsung mengenai pendidikan dan kehidupan masyarakat Amerika, sekaligus memperkenalkan budaya negara asal kepada keluarga angkat dan lingkungan sekolah mereka. (*)
Editor : Faroq Zamzami