SALAH satu gangguan kesehatan yang dapat terjadi tiba-tiba adalah mimisan. Mimisan atau dikenal dalam istilah medis disebut epistaksis, merupakan sebuah kondisi ketika darah keluar dari hidung. Mimisan dapat terjadi pada salah satu atau kedua lubang hidung, dan durasinya bisa bervariasi dari beberapa detik hingga lebih dari 20 menit. Ada beberapa faktor penyebab mimisan, salah satunya adalah adanya gangguan kesehatan tertentu.
IDI merupakan singkatan dari Ikatan Dokter Indonesia. IDI Bandung Barat dengan alamat website idibandungbarat.org merupakan cabang dari organisasi profesi kedokteran yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di wilayah Bandung. IDI Bandung Barat berkolaborasi dengan IDI Banjar dengan alamat idibanjar.org menjelaskan bahwa mimisan merupakan kondisi di mana terjadi pendarahan dari rongga hidung. Ini merupakan gejala umum yang dapat dialami oleh individu dari berbagai usia.
IDI Kota Bekasi dengan alamat website idibekasi.org bekerja sama dengan IDI Kota Bogor dengan alamat idibogor.org berupaya untuk mengedukasi serta memberikan konsultasi gratis untuk mengobati pria atau wanita yang sedang mengalami gangguan kesehatan.
IDI Kota Ciamis dengan alamat website idiciamis.org untuk melakukan penelitian lanjutan terkait penyebab terjadinya mimisan serta pengobatan yang tepat bagi penderitanya.
Apa saja penyebab terjadinya mimisan?
Mimisan adalah keluarnya darah dari satu atau kedua lubang hidung. Pendarahan ini dapat terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di hidung dan bisa berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam. Mimisan, atau epistaksis, adalah kondisi di mana terjadi pendarahan dari rongga hidung. Berikut adalah beberapa penyebab terjadinya mimisan meliputi:
- Udara kering
Faktor utama terjadinya mimisan adalah karena udara kering. Udara yang kering, terutama pada musim dingin atau di ruangan ber-AC, dapat mengeringkan selaput lendir hidung, membuat pembuluh darah lebih rentan pecah.
- Kebiasaan mengorek hidung
Mengorek hidung terlalu keras atau terlalu dalam dapat merusak pembuluh darah di dalam hidung, menyebabkan mimisan.
- Cedera pada hidung
Faktor lainnya penyebab terjadinya mimisan adalah cedera pada hidung. Benturan pada hidung akibat kecelakaan, olahraga, atau pukulan dapat menyebabkan pembuluh darah pecah dan mengakibatkan perdarahan.
- Perubahan suhu serta infeksi saluran pernafasan
Faktor terakhir terjadinya mimisan adalah perubahan suhu dan cuaca sehingga menimbulkan infeksi pada saluran pernafasan. Kondisi seperti sinusitis atau rhinitis alergi dapat menyebabkan peradangan dan iritasi pada lapisan hidung, meningkatkan risiko mimisan.
Apa saja obat yang direkomendasikan untuk mengobati mimisan?
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah merangkum beberapa obat yang dapat meredakan mimisan. Obat yang direkomendasikan untuk mengatasi mimisan (epistaksis) terdapat beberapa jenis obat dan metode yang dapat membantu menghentikan perdarahan. Berikut adalah pilihan obat dan tindakan yang dapat dilakukan meliputi:
- Asam Traneksamat
Obat ini berfungsi untuk mempercepat proses penggumpalan darah, sehingga dapat membantu menghentikan mimisan. Namun, penggunaannya harus berdasarkan resep dokter untuk menghindari efek samping, terutama jika ada kondisi medis tertentu.
- Dekongestan Semprot
Obat semprot hidung yang mengandung dekongestan, seperti oxymetazoline, juga dapat digunakan untuk mengecilkan pembuluh darah di hidung dan menghentikan perdarahan. Namun, penggunaan jangka panjang tidak disarankan karena dapat memperburuk kondisi mimisan.
- Larutan air garam (Saline)
Larutan air garam dapat membantu melembabkan rongga hidung dan mengurangi iritasi, yang bisa berkontribusi pada penghentian mimisan. Air garam juga membantu mempersempit pembuluh darah.
Metode pertama jika Anda mengalami mimisan adalah gunakan kompres dingin pada pangkal hidung untuk membantu menghentikan perdarahan. Jika mimisan berlangsung lebih dari 10 menit, disertai dengan jumlah darah yang banyak, atau jika Anda merasa pusing atau tidak nyaman, segera cari bantuan medis. Konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. (*)
Editor : Erwin D. Nugroho