PROKAL.CO- Penyakit kelamin sering kali disalahartikan oleh masyarakat. Dua di antaranya, gonore dan sifilis. Sering dianggap sebagai penyakit yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan signifikan dalam penyebab, gejala, dan pengobatannya.
Gonore, yang lebih dikenal dengan istilah kencing nanah, dan sifilis sering kali dipandang serupa karena keduanya dapat menular melalui hubungan seksual. Namun, menurut dr Agnes Kartini, yang merupakan dokter spesialis kulit dan kelamin menyebutkan kedua penyakit ini memiliki banyak perbedaan dan sering kali disalahartikan oleh masyarakat.
Sebenarnya bisa saja gonore timbul bersamaan dengan sifilis. Karena kedua penyakit ini masuk dalam kategori PMS mayor. “Biasanya penyakit seksual lain itu bisa muncul bersamaan dan berbarengan dengan penyakit lain. Penyakit kelamin kan banyak yang seperti itu. Makanya ketika seseorang terdeteksi satu penyakit seksual akan di-screening juga penyakit seksual lainnya karena ada kemungkinan muncul bersamaan,” sebutnya.
Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menyerang saluran kemih dan kelamin. Penyakit ini ditandai dengan gejala yang lebih langsung dan mudah dikenali, seperti keluarnya nanah dari saluran kemih atau alat kelamin, serta rasa nyeri saat buang air kecil. “Gonore itu seperti kencing nanah, jadi pasien akan merasa ada nanah keluar, nanah itu bisa menempel pada celana,” ujarnya.
Sementara itu, sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang memiliki gejala yang lebih tersembunyi, terutama pada fase awal atau primer. “Pada sifilis fase pertama, biasanya muncul luka kecil yang bersih dan tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga banyak penderita yang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi,” bebernya.
Luka ini, yang dikenal sebagai lesi atau ulkus sifilitik. Sering kali ditemukan pada area genital, mulut atau anus. Namun karena tidak menimbulkan rasa nyeri, sehingga banyak yang mengabaikannya.
Jika sifilis tidak segera diobati, penyakit ini bisa berkembang ke fase kedua, yang sering kali lebih sulit dikenali karena menyerupai penyakit kulit lainnya seperti psoriasis atau ruam campak. “Pada fase kedua, gejala lebih banyak muncul pada kulit, dan bisa sangat mirip dengan penyakit kulit lainnya, seperti bintik-bintik berwarna perak yang bersisik,” tambahnya.
Karena banyaknya gejala yang mirip dengan penyakit lain, penderita sifilis pada fase ini juga sering tidak sadar bahwa mereka sedang menderita sifilis. Salah satu perbedaan penting antara gonore dan sifilis adalah cara penularannya. Meskipun keduanya ditularkan melalui hubungan seksual, sifilis juga dapat menular dari ibu ke janin selama kehamilan.
“Penularan sifilis bisa terjadi melalui transfusi darah yang tidak terdeteksi atau melalui penggunaan alat suntik yang tidak steril, mirip dengan penularan HIV,” terangnya. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin untuk ibu hamil sangat penting untuk mencegah penularan sifilis pada bayi.
Sebaliknya, gonore lebih terbatas penularannya pada hubungan seksual atau kontak langsung dengan cairan tubuh yang terinfeksi. Meskipun tidak ada risiko penularan langsung dari ibu ke bayi, gonore tetap bisa berdampak pada kesehatan reproduksi, terutama jika tidak segera diobati. dr Agnes menegaskan kedua penyakit ini harus segera diobati untuk mencegah komplikasi yang lebih serius, seperti infertilitas atau penularan ke orang lain.
Menurutnya, pengobatan untuk kedua penyakit ini pun berbeda. Gonore dapat diobati dengan antibiotik, sementara sifilis memerlukan pengobatan dengan penisilin. “Pengobatannya dengan terapi obat antibiotik penisilin. Untuk gonore lebih mudah lagi pengobatannya,” ujarnya. Pengobatan untuk sifilis, jika dilakukan dengan benar, bisa menghentikan penyebaran bakteri dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Selain itu, dr Agnes menambahkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit kelamin adalah kesalahpahaman masyarakat yang sering mengaitkan sifilis dengan gonore.
“Banyak orang datang memeriksakan diri karena merasa mengidap sifilis, padahal gejalanya lebih mirip dengan gonore, seperti kencing nanah,” katanya. Kesalahpahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tetapi juga terkadang terjadi di kalangan tenaga medis, yang menyebabkan diagnosis dan pengobatan yang tidak tepat.
Untuk pencegahannya ada beberapa cara termasuk penggunaan kondom. Meskipun penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan penyakit kelamin, penggunaannya yang tidak tepat masih dapat menyebabkan penularan.
“Penggunaan kondom yang salah atau tidak konsisten masih bisa membawa risiko penularan sifilis, meskipun kondom memang bisa mengurangi presentasi penularannya,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah Indonesia kini semakin gencar melakukan program tripel eliminasi, yang meliputi deteksi penyakit HIV, hepatitis, dan sifilis pada ibu hamil. “Dengan program ini, kita bisa mencegah penularan sifilis dari ibu ke bayi dan mengurangi angka kematian pada bayi yang terinfeksi,” jelasnya.
Program ini sangat penting karena meskipun sifilis dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, jika tidak segera diobati, dampaknya bisa sangat fatal. Sifilis dan gonore mungkin terlihat mirip bagi sebagian orang, tetapi kedua penyakit ini memiliki perbedaan yang jelas dalam gejala, penyebab, dan pengobatan.
Pemahaman yang benar tentang kedua penyakit ini sangat penting agar penularannya dapat dicegah dan pengobatannya dilakukan dengan tepat. Pemeriksaan kesehatan secara rutin dan kesadaran untuk menghindari risiko penularan penyakit kelamin menjadi kunci utama dalam menanggulangi masalah ini.(*)
Editor : Indra Zakaria