Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Membedah Alasan Orang Ramai-Ramai ke Gym, Demi Sehat atau Demi Eksitensi?

Redaksi • 2025-07-11 13:30:00
Ilustrasi wanita ngegym.
Ilustrasi wanita ngegym.


Di era media sosial dan budaya pencitraan, olahraga tak lagi sekedar kebutuhan tubuh—tapi juga bentuk eksitensi. Munculnya tren gym, healthy lifestyle, hingga meal-prep viral di TikTok dan Instagram menjadi dorongan besar bagi banyak orang untuk ikut berolahraga. Tapi apakah semuanya berangkat dari kesadaran akan kesehatan? Atau justru karena takut tertinggal?

Fenomena ini kini dikenal luas sebagai FOMO olahraga (Fear of Missing Out on Fitness), dan sedang menyebar di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Fenomena Global, Olahraga, Eksistensi, dan Tekanan Tak Kasat Mata

Menurut studi Pew Research Center (2024), lebih dari 60% generasi muda (Gen z dan Milenial) mengakui bahwa media sosial punya pengaruh besar terhadap kebiasaan mereka dalam berolahraga. Bukan hanya karena ingin sehat, tapi juga agar tidak merasa tertinggal dari orang-orang di sekitar mereka yang tampak lebih “fit”, produktif, atau estetik.

Di negara seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan, pusat kebugaran sudah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup utban. Namun, bersamaan dengan itu, muncul kekhawatiran bahwa olahraga telah bergeser dari kebutuhan personal menjadi ajang pembuktian sosial.

Fenomena ini juga ditangkap oleh banyak psikolog kesehatan masyarakat sebagai potensi tekanan sosial terselubung, di mana orang merasa “harus” rajin olahraga, bukan karena ingin, tapi karena tidak terlihat “malas” atau “tidak keren”.

Gaya Hidup Sehat Mulai Berakar di Samarinda

Meski bukan kota metropolitan seperti Jakarta atau Surabaya, Samarinda kini mulai menunjukkan geliat tren olahraga serupa, dengan gym dan pusat kebugaran bermunculan di berbagai sudut kota. Data dari fitnesloka.com mencatat lebih dari 30 tempat gym aktif di Samarinda, dengan fasilitas yang semakin modern dan bervariasi.

Pada tahun 2024, hadir Refit Club Samarinda, cabang jaringan pusat kebugaran nasional yang menawarkan layanan seperti HIIT class, latihan beban, dan personal trainer. Ini merupakan tanda bahwa demand terhadap olahraga di Samarinda sedang naik.

Antara Kesehatan dan Citra Sosial

Seperti kota-kota besar lainnya, masyarakat Samarinda mulai menjadikan gym sebagai bagian dari lifestyle. Tapi yang menarik, tidak semua datang dengan motivasi yang sama. Penelitian lokal oleh mahasiswa Universitas Mulawarman (2022) menunjukkan bahkan motivasi utama sebagian besar pengunjung gym di Samarinda adalah penampilan, disusul dengan alasan kesehatan dan sosial.

Risiko FOMO: Olahraga Harusnya Bebas Tekanan

Budaya olahraga tentu positif, tapi jika dilakukan karena tekanan sosial, bukan karena kebutuhan pribadi justru bisa berdampak sebaliknya seperti:

• Overtraining: terlalu memaksakan tubuh demi hasil cepat atau demi konten bisa menyebabkan cedera dan burnout.

• Body Image Issues: membandingkan bentuk tubuh dengan standar ideal di medsos bisa merusak kepercayaan diri.

• Olahraga Jadi Beban: saat olahraga bukan lagi tentang diri sendiri, tapi soal pembuktian di depan publik.

Tren olahraga seharusnya jadi pemicu kesadaran, bukan tekanan. Entah di New York, Seoul atau Samarinda, olahraga idealnya dimulai dari niat yang jujur—bukan demi algoritma. “Kalau niatnya karena orang lain, kita bakal capek. Tapi kalau karena diri sendiri, hasilnya jauh lebih menyenangkan” tulis pisikolog Dr.Jennifer Lane dalam The Social Body (2023), buku yang membahas pengaruh sosial terhadap persepsi tubuh dan olahraga.

Olahraga bisa jadi gaya hidup, bisa jadi ruang healing, dan tentu bisa jadi sarana menjaga tubuh. Tapi yang tak boleh dilupakan, motivasi internal adalah kunci. FOMO boleh saja jadi pemantik awal, tapi keberlanjutan hanya lahir dari kesadaran pribadi.

Dan di Samarinda, kota yang mungkin tak secepat Jakarta, tren gym sudah tumbuh. Sekarang tinggal bagaimana warga terutama generasi muda, memastikan bahwa olahraga bukan karena ikut-ikutan, tapi karena benar-benar ingin hidup lebih sehat. (Arsandha Agadistria Putri)

Editor : Indra Zakaria