BOGOR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) baru-baru ini menjadi pusat perhatian publik setelah penyajian buah kecapi dalam menu tersebut viral di media sosial. Peristiwa ini terjadi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Sindur, Pengasinan 1, Bogor. Menanggapi ramainya pembahasan tersebut, pihak SPPG secara terbuka menyampaikan permohonan maaf melalui akun Instagram resminya, mengakui adanya ketidaksesuaian menu bagi kelompok penerima manfaat tertentu.
Dalam klarifikasinya, pihak SPPG menjelaskan bahwa buah kecapi dinilai kurang tepat untuk diberikan kepada kelompok usia rentan seperti balita, siswa PAUD/TK, hingga siswa sekolah dasar kelas bawah (kelas 1-3 SD). Karakteristik buah kecapi yang memiliki kulit tebal, daging buah yang melekat kuat pada biji, serta rasa yang cenderung asam dianggap menyulitkan anak-anak untuk mengonsumsinya secara mandiri. Meskipun awalnya dimaksudkan untuk mengenalkan kekayaan buah lokal, kenyataan di lapangan menunjukkan perlunya pertimbangan lebih mendalam mengenai aspek keamanan dan kemudahan konsumsi.
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara program makanan massal bahwa menyusun menu untuk anak-anak tidak cukup hanya dengan memenuhi standar nutrisi. Aspek tekstur, rasa, dan faktor keamanan seperti risiko tersedak harus menjadi prioritas utama. Makanan yang terlalu sulit dikunyah atau memiliki rasa yang terlalu kuat sering kali justru berujung pada penolakan oleh anak, sehingga target asupan gizi yang diharapkan tidak tercapai karena makanan tersebut akhirnya tersisa.
Para ahli gizi menekankan bahwa untuk anak usia dini dan sekolah dasar, buah-buahan yang ideal adalah yang memiliki tekstur lembut, mudah dikupas, dan rasanya manis atau segar yang akrab di lidah, seperti pisang, pepaya, melon, semangka, atau jeruk tanpa biji. Jika ingin menyajikan buah dengan struktur yang menantang seperti kecapi, diperlukan perlakuan khusus seperti pemotongan kecil-kecil atau pengolahan menjadi jus agar tetap aman dan menarik bagi anak.
Pihak SPPG Gunung Sindur menegaskan bahwa insiden ini menjadi bahan evaluasi serius dalam penyusunan menu ke depan. Evaluasi tersebut tidak hanya mencakup nilai gizi, tetapi juga memastikan bahwa setiap komponen makanan benar-benar dapat diterima dan dimakan oleh anak-anak sesuai jenjang usia mereka. Keterlibatan pihak sekolah dan orang tua dalam memberikan masukan juga dianggap sangat krusial agar program strategis ini tepat sasaran dan efektif mendukung tumbuh kembang anak secara aman.(*)
Editor : Indra Zakaria