Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Miris, Ruang Cuci Darah Kini Didominasi Usia Muda; Dokter Ungkap Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama

Redaksi Prokal • 2026-03-02 06:15:00

ilustrasi ginjal
ilustrasi ginjal

PROKAL.CO– Fenomena gagal ginjal di Indonesia mengalami pergeseran yang mengkhawatirkan. Jika dahulu penyakit ini identik dengan lansia, kini ruang-ruang cuci darah justru dipenuhi oleh pasien rentang usia 30 hingga 40 tahun, bahkan tidak sedikit yang masih berusia 20-an.

Hal ini menjadi sorotan tajam dr. Decsa Medika Hertanto. Melalui kanal YouTube Tirta PengPengPeng, ia menceritakan keheranan sejawatnya dari luar negeri saat melihat kondisi di fasilitas kesehatan Indonesia.

“Saya kedatangan kolega dari Belanda, dan dia kaget melihat pasien di sini banyak yang muda,” ujar dr. Decsa.

Menurutnya, pola makan menjadi salah satu faktor paling menonjol. Berbeda dengan negara Eropa yang cenderung mengonsumsi makanan ringan untuk sarapan dan malam, masyarakat Indonesia terbiasa makan "menu berat" tiga kali sehari dengan komposisi tinggi nasi, gorengan, dan santan. Konsumsi gula dan garam yang tinggi dalam jangka panjang memicu hipertensi serta diabetes yang merusak pembuluh darah ginjal.

Selain faktor nutrisi, dr. Decsa menyoroti gaya hidup kurang gerak yang diperparah dengan ketergantungan pada kendaraan bermotor. Kondisi ini membuat pembuluh darah lebih cepat kaku, yang pada gilirannya berisiko menyebabkan stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal.

Ancaman lain yang sering diabaikan adalah kebiasaan mengonsumsi obat nyeri tanpa resep dokter dan alkohol. Penggunaan obat anti-nyeri golongan NSAID secara rutin untuk mengatasi pegal linu dapat merusak struktur ginjal secara perlahan tanpa disadari. Begitu pula dengan alkohol, terutama jenis oplosan yang mengandung metanol, yang dapat memicu gagal ginjal akut hingga kebutaan.

Di sisi lain, terdapat faktor medis seperti penyakit imun IgA nefropati yang bisa menyerang orang yang tampak sehat. Oleh karena itu, pemeriksaan urine setahun sekali menjadi langkah deteksi dini yang krusial.

Mengingat gagal ginjal kini masuk dalam tiga besar pembiayaan kesehatan nasional, dr. Decsa mengingatkan bahwa kesehatan adalah tanggung jawab pribadi yang tidak bisa ditawar.

“Jangan menunggu sakit. Kesehatan itu tanggung jawab pribadi,” tegas dr. Decsa.

Ia menekankan bahwa bekerja keras adalah hal wajar, namun menjaga tubuh tetap harus menjadi prioritas utama. Pasalnya, jika fungsi ginjal sudah rusak, pasien hanya memiliki pilihan sulit antara cuci darah seumur hidup atau transplantasi ginjal yang biayanya sangat besar. (*)

Editor : Indra Zakaria