Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kanker Usus Besar Kini Banyak Menyerang Anak Muda, Apa Penyebabnya? Ternyata Mayoritas Soal Gaya Hidup

Redaksi Prokal • 2026-03-10 12:25:00

ilustrasi kanker usus besar.
ilustrasi kanker usus besar.

PROKAL.CO- Kanker kolorektal yang selama ini sering dianggap sebagai penyakit "orang tua," kini mulai menunjukkan pergeseran tren yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa tahun terakhir, tenaga medis mencatat peningkatan kasus yang signifikan pada kalangan dewasa muda. Fenomena ini memicu alarm bagi generasi produktif untuk lebih peduli terhadap kesehatan pencernaan mereka, mengingat gejala awalnya yang sering kali tersamarkan oleh kesibukan sehari-hari.

Para ahli kanker mengungkapkan bahwa meskipun penyebab pasti pergeseran usia ini masih diselidiki, faktor diet dan gaya hidup memiliki kaitan erat dengan tingkat risiko seseorang. Misalnya gaya hidup makanan yang sembarangan dan lainnya.

Salah satu cara paling efektif untuk membentengi diri adalah dengan memastikan asupan serat yang cukup setiap harinya. Serat yang terkandung dalam kacang-kacangan, biji-bijian utuh, sayur, dan buah-buahan berperan penting dalam memberi nutrisi bagi bakteri baik di mikrobioma usus. Selain meningkatkan kualitas pencernaan, serat membantu memperpendek waktu singgah zat-zat pemicu iritasi di dalam usus besar.

Selain memperbanyak serat, pengaturan konsumsi daging juga menjadi sorotan. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) telah mengategorikan daging olahan seperti sosis sebagai karsinogen, sementara daging merah masuk dalam daftar risiko jika dikonsumsi secara berlebihan. Langkah bijak yang disarankan bukanlah menghapus menu daging sepenuhnya, melainkan mengonsumsinya dalam jumlah sedang dan menghindari produk daging yang telah melalui banyak proses kimiawi.

Di sisi lain, aktivitas fisik tetap menjadi fondasi kesehatan metabolisme yang tak tergantikan. Olahraga teratur terbukti mampu mengurangi peradangan dalam tubuh dan meningkatkan sensitivitas insulin, yang secara langsung berkaitan dengan penurunan risiko kanker usus. Sebaliknya, gaya hidup kurang gerak dan obesitas menjadi pintu masuk bagi berbagai masalah kesehatan jangka panjang. Fokus utamanya bukan sekadar mencapai berat badan ideal, melainkan menjaga metabolisme tetap aktif melalui pergerakan tubuh yang konsisten.

Satu tantangan besar bagi anak muda adalah kecenderungan untuk mengabaikan gejala kecil. Beberapa tanda seperti perubahan kebiasaan buang air besar yang menetap selama berminggu-minggu, adanya darah pada tinja, nyeri perut yang hilang timbul, hingga penurunan berat badan secara drastis harus segera dikonsultasikan ke dokter. Meskipun American Cancer Society menyarankan skrining rutin dimulai pada usia 45 tahun, mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kasus serupa sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lebih dini sebagai langkah antisipasi yang proaktif.(*)

Editor : Indra Zakaria