Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bukan Drama, Ternyata Ini Alasan Ilmiah Mengapa Pria Lebih Manja dan Menderita Saat Kena Demam dan Flu

Indra Zakaria • Senin, 11 Mei 2026 | 06:00 WIB
ilustrasi pria kena demam.
ilustrasi pria kena demam.

PROKAL.CO-Pernahkah Anda melihat seorang pria yang biasanya gagah tiba-tiba tampak sangat tidak berdaya, bahkan cenderung "lebay" saat hanya terkena demam ringan? Fenomena yang sering disebut secara informal sebagai Man Flu ini kerap menjadi bahan candaan di lingkungan keluarga maupun media sosial. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa keluhan mereka mungkin bukan sekadar cari perhatian.

Di balik kesan "drama" tersebut, ternyata tersimpan alasan biologis dan psikologis yang nyata. Berikut adalah fakta di balik fenomena Man Flu:

1. Perang Hormon: Estrogen vs Testosteron

Kunci utamanya terletak pada hormon seks. Wanita memiliki Estrogen yang berperan sebagai pelindung sistem imun, membantu tubuh memproduksi antibodi lebih cepat saat virus menyerang.

Sebaliknya, pria memiliki Testosteron dalam kadar tinggi. Menariknya, hormon kejantanan ini justru bersifat imunosupresif atau menekan sistem kekebalan tubuh. Riset menunjukkan bahwa pria dengan testosteron tinggi cenderung memiliki respons imun yang lebih lemah terhadap infeksi virus dibandingkan wanita. Jadi, secara biologis, pria memang lebih rentan "tumbang".

2. Warisan Nenek Moyang: Strategi Bertahan Hidup

Dari sisi evolusi, kondisi lemas yang luar biasa pada pria saat sakit mungkin merupakan mekanisme pertahanan diri. Di masa purba, pria yang terlibat dalam aktivitas berisiko seperti berburu membutuhkan pemulihan internal yang sangat cepat. Dengan "beristirahat total" dan merasa sangat tidak berdaya, tubuh mereka bisa memusatkan seluruh energi untuk melawan infeksi tanpa terganggu aktivitas fisik yang berat.

3. Ambang Batas Nyeri yang Berbeda

Saraf pria dan wanita bekerja dengan cara yang berbeda dalam memproses rasa sakit. Wanita secara alami memiliki mekanisme coping yang lebih tangguh terhadap nyeri jangka panjang, kemungkinan besar karena faktor biologis seperti siklus menstruasi dan proses melahirkan. Bagi pria, gejala akut seperti demam tinggi dapat terasa jauh lebih intens dan menyakitkan pada tingkat saraf otak.

4. Beban Psikologis: Dari "Kuat" Menjadi "Lumpuh"

Secara sosiokultural, pria sering kali memikul ekspektasi untuk selalu tampil kuat dan dominan. Ketika mereka akhirnya sakit, terjadi kontras yang drastis antara identitas mereka yang biasanya tangguh dengan kondisi fisik yang lemah. Hal ini membuat mereka merasakan dampak psikologis yang lebih berat. Selain itu, menunjukkan gejala yang kuat sering kali menjadi satu-satunya cara bawah sadar bagi pria untuk mendapatkan perawatan ekstra yang jarang mereka minta dalam kondisi normal.

Lain kali jika pasangan atau teman pria Anda tampak sangat menderita karena flu, mungkin ada baiknya kita sedikit lebih empati. Pria mungkin tidak sedang melebih-lebihkan keadaan; kombinasi sistem imun yang lebih lambat dan sensitivitas saraf yang tinggi membuat pengalaman demam bagi mereka memang terasa jauh lebih menyiksa secara fisik.

Editor : Indra Zakaria
#demam #pria