Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dokter Ungkap Kurang Tidur Jadi Biang Kerok Emosi Meledak-ledak

Redaksi Prokal • Sabtu, 23 Mei 2026 | 13:15 WIB
ilustrasi tidur
ilustrasi tidur

 
PROKAL.CO— Kebiasaan begadang dan kurang tidur di kalangan masyarakat modern ternyata tidak hanya berimbas pada tubuh yang lemas dan sulit fokus saat beraktivitas. Lebih dari itu, durasi tidur yang tidak ideal terbukti secara ilmiah dapat menjadi pemicu utama tidak stabilnya emosi seseorang, hingga memicu perilaku yang jauh lebih agresif dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini dikupas tuntas oleh seorang dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, melalui unggahannya di media sosial X yang belakangan ramai diperbincangkan warganet. Dalam cuitannya yang dinilai sangat relevan dengan gaya hidup masa kini, dr. Adam membagikan pengalaman pribadinya yang kini mulai disiplin menerapkan rutinitas tidur malam minimal tujuh jam. Menariknya, komitmen tersebut ia jalani bukan semata-mata demi mengejar produktivitas kerja, melainkan sebagai tameng agar dirinya tidak mudah marah dan tersinggung.

Kesadaran untuk memperbaiki pola tidur ini muncul setelah dr. Adam mendalami sebuah laporan systematic review dan meta-analysis yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Sleep Medicine Reviews. Riset mendalam tersebut merangkum hasil dari 60 studi berbeda yang secara khusus meneliti korelasi antara kualitas tidur dan kondisi psikologis seseorang. Hasil kesimpulan dari puluhan penelitian itu menunjukkan adanya ikatan yang sangat kuat antara kurangnya waktu istirahat dengan lonjakan rasa amarah, sifat impulsif, serta kecenderungan berperilaku agresif.

Lebih detail, beberapa studi eksperimental yang dikutip menunjukkan bahwa orang-orang yang waktu tidurnya dibatasi secara sengaja hanya sekitar empat hingga enam jam per malam mengalami peningkatan reaktivitas emosi yang sangat drastis. Mereka menjadi kelompok yang paling rentan tersulut emosinya hanya karena masalah sepele. Menurut dr. Adam, kondisi emosional yang labil ini terjadi bukan serta-merta karena dasar karakter orang tersebut adalah pemarah, melainkan karena otak mereka sedang berada dalam fase kelelahan akut akibat hak istirahatnya tidak terpenuhi.

Secara medis, kurang tidur dapat mengacaukan regulasi emosi karena memicu peningkatan hormon stres di dalam tubuh secara signifikan. Di saat yang bersamaan, bagian otak yang berfungsi sebagai pengendali emosi dan pengambil keputusan tidak dapat bekerja secara optimal saat tubuh kekurangan daya. Dampak domino dari pincangnya fungsi otak ini membuat seseorang kehilangan kontrol diri dan menjadi lebih mudah bereaksi secara berlebihan dalam merespons situasi sosial sehari-hari. Di akhir penjelasannya, dr. Adam pun melemparkan sebuah pertanyaan reflektif yang menantang kesadaran masyarakat untuk tidak lagi menyepelekan pentingnya tidur malam yang cukup demi menjaga kesehatan mental. (*)

Editor : Indra Zakaria
#tidur