PROKAL.CO- Selama ini masyarakat mengenal kluwih sebatas bahan racikan sayur lodeh tradisional atau sekadar alternatif pengganti nangka muda. Namun di balik kesederhanaannya, buah dari keluarga tanaman sukun dan nangka ini ternyata menyimpan kekayaan nutrisi melimpah yang berpotensi besar menunjang kesehatan serta tumbuh kembang anak.
Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Apt. Mangestuti Agil, MS, mengungkapkan bahwa seluruh bagian kluwih—termasuk tepung yang diolah dari bijinya—sangat potensial dimanfaatkan sebagai sumber gizi alternatif, khususnya bagi bayi dan anak.
Meskipun harganya terjangkau dan mudah diolah, kluwih memuat profil gizi yang terbilang padat dan kompleks. Kehadiran protein yang tersusun atas asam amino esensial di dalamnya berperan vital untuk membentuk sel-sel baru dalam tubuh. Sementara itu, kandungan serat larut dan tidak larutnya efektif menjaga kesehatan saluran pencernaan, mendukung mikrobioma usus, serta membantu mengendalikan kadar gula darah.
Dukungan vitamin A, B kompleks, dan C yang berpadu dengan senyawa flavonoid di dalam kluwih juga menunjukkan aktivitas antioksidan dan antiradang yang tinggi. Kombinasi nutrisi ini penting untuk melawan stres oksidatif, meredakan peradangan, menjaga kesehatan sistem saraf dan fungsi otak, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Selain itu, kluwih kaya akan mineral penting seperti kalsium, kalium, fosfor, zat besi, dan zinc yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan kinerja hormon dan enzim, serta mendukung pertumbuhan tulang dan otot. Kehadiran asam lemak omega 3 dan 6 semakin melengkapi keunggulannya dalam menjaga kesehatan jantung, pembuluh darah, keseimbangan kolesterol, hingga kesehatan mental.
Melihat kelengkapan nutrisi tersebut, Prof. Mangestuti menilai bahwa inovasi pemanfaatan tepung biji kluwih dapat menjadi salah satu peluang strategis untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi serta mengatasi masalah kekurangan nutrisi pada anak. Dengan potensi besar ini, kluwih tak lagi bisa dipandang sebelah mata sebagai sayuran kelas dua, melainkan layak diangkat sebagai sumber pangan lokal bergizi tinggi bagi keluarga. (*)