Sering Dikira Serangan Jantung, Ini 7 Pemicu Utama Serangan Panik dan Cara Mencegahnya

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 07:15 WIB
Ilustrasi panik.
Ilustrasi panik.

 
PROKAL.CO— Serangan panik kerap kali muncul tiba-tiba tanpa peringatan. Gejala-gejalanya meliputi jantung yang berdebar kencang, sesak napas, tubuh gemetar, berkeringat dingin, hingga munculnya sensasi kehilangan kendali secara mendadak. Meski kerap disalahartikan sebagai serangan jantung, kondisi ini sebenarnya merupakan respons tubuh terhadap rasa takut yang sangat intens.

Berdasarkan temuan yang dipublikasikan oleh Psychology Today, serangan panik pada dasarnya berkembang dari kombinasi kondisi psikologis, pengalaman hidup, serta cara seseorang merespons tekanan.

"Faktor-faktor ini bukan berarti seseorang pasti mengalami gangguan panik. Namun, kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap munculnya serangan panik pada situasi tertentu," tulis Psychology Today dalam laporannya.

Salah satu faktor pemicu utamanya adalah kecenderungan mudah merasa cemas. Kekhawatiran berlebih yang berlangsung terus-menerus membuat sistem saraf berada dalam kondisi siaga tinggi. Akibatnya, tubuh bereaksi jauh lebih cepat dan ekstrem ketika menghadapi tekanan, meski situasinya tidak selalu membahayakan.

Kondisi tersebut kerap diperparah oleh kepekaan berlebih terhadap perubahan fisik, seperti langsung menganggap detak jantung yang berakselerasi sebagai tanda penyakit serius. Penafsiran keliru ini berisiko memicu spiral kecemasan yang berakhir menjadi serangan panik. Selain itu, kesulitan mengelola stres akibat beban kerja atau persoalan keluarga, serta kebiasaan menghindari situasi menakutkan justru makin memperkuat rasa cemas di masa depan.

Riwayat gangguan kecemasan, kesulitan mengendalikan emosi, hingga pengalaman traumatis seperti kehilangan orang terdekat atau kekerasan masa lalu turut memperbesar risiko serangan ini karena dapat memengaruhi kepekaan sistem respons stres tubuh.

Kendati dampaknya terasa sangat mengganggu, kondisi psikologis ini dipastikan dapat dipulihkan melalui penanganan dan terapi yang tepat.

"Serangan panik dan gangguan panik merupakan kondisi yang dapat ditangani melalui terapi psikologis, perubahan gaya hidup, dan pada sebagian kasus dengan pengobatan yang diresepkan tenaga medis," jelas laporan tersebut.

Guna menekan risiko serangan, beberapa langkah pencegahan mandiri sangat dianjurkan. Di antaranya dengan menjaga pola tidur, rutin berolahraga, membatasi konsumsi kafein, serta melatih teknik relaksasi pernapasan. Apabila gejala panik mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater menjadi langkah bijak untuk mengendalikan kecemasan demi menjaga kualitas hidup. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
serangan panik