PROKAL.Co, BALIKPAPAN-Maxwell Scott, Pakar Artificial Intelligence (AI/kecerdasan buatan) Governance dari Amerika Serikat (AS), mengingatkan bahwa industri media saat ini tak bisa lepas dari perkembangan AI.
Kehadiran AI dalam industri media membantu mempercepat kerja-kerja jurnalis dan editor. Maka itu, pelaku industri media harus bisa beradaptasi.
Di sisi lain, dia mengingatkan, cara publik mengonsumsi media dalam 10 tahun terakhir sudah berubah. Bahkan, dia memprediksi, perubahan akan terus terjadi hingga 15 tahun ke depan.
Baca Juga: Disdukcapil PPU Jemput Bola Aktivasi IKD, Antusias Warga di Tiga Kelurahan Membludak
Hal itu disampaikan pria yang akrab disapa Max itu saat bertandang ke Gedung Biru Kaltim Post Group di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) pada Jumat (18/9/2026) pukul 14.00 Wita.
Saat itu dia disambut oleh Direktur Kaltim Post Group, Erwin Dede Nugroho, dan pemimpin perusahaan di lingkungan Kaltim Post Group.
Kunjungannya bersama rombongan dari Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Jakarta ke Kaltim dalam rangkaian roadshow ke beberapa daerah untuk mendiskusikan perkembangan AI.
Max datang bersama Katherine Jernigan, Public Diplomacy Officer Kedubes AS; Kresna Soegio, Staf Kedubes AS; dan Shila Ghisani, Staf Kedubes AS.
Pada kesempatan itu, Max membeberkan, sebelum ada ada AI, ekosistem berita bergantung pada tenaga manusia. Wartawan meliput, editor mengedit berita hasil tulisan wartawan, kemudian masuk ke proses cetak untuk media cetak, dan proses upload untuk berita online.
Baca Juga: PPU Dorong Penguatan Sistem Pertahanan IKN, Soroti Lahan hingga Ketahanan Pangan
Belakangan, dengan adanya AI, siapa saja jadi bisa memproduksi berita. Jadi lebih cepat dan lebih mudah.
Di Amerika Serikat, kata dia, dengan kehadiran AI, beberapa bidang di industri media sudah mulai tergantikan. Salah satunya, editor. Fotografer pun, kata dia, sudah mulai tergeser dengan kehadiran AI.
“Kehadiran AI ini memang membuat perubahan karena ada posisi yang berganti (di industri media) karena biayanya jadi rendah. Namun, ini poin pentingnya, belum tentu isinya (konten yang dihasilkan AI) dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Nah, karena konten-konten hasil dari AI ini masih dipertanyakan faktanya, di situlah peran penulis yang tak bisa digantikan, yakni memberikan fakta kepada publik.
Sekarang, dengan kehadiran AI banyak konten yang dihasilkan serupa, sehingga susah dibedakan. Posisi media yang tetap jadi rujukan publik karena memproduksi berita berdasarkan hasil diliput langsung oleh wartawan di lokasi kejadian atau di lapangan, atau wartawan yang melakukan wawancara langsung kepada narasumber.
“Sekarang publik juga semakin cerdas untuk mencari berita yang sesuai kebenaran. Jadi sekarang itu, untuk industri media tak perlu menghasilkan konten yang banyak. Yang terpenting adalah beritanya benar, bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Baca Juga: PPU Jajaki Kerja Sama dengan Politeknik Penerbangan Surabaya, Siapkan SDM untuk Bandara IKN
Realita ini juga dilihat oleh pemasang iklan. Mereka hanya akan mensupport kepada media yang memang punya kredibilitas dan konsisten memproduksi berita yang sesuai fakta.
“Karena pada nantinya kebenaran akan lebih berharga. Pengiklan akan lebih ke penerbit yang menunjung kebenaran,” katanya.
Dia menambahkan, di industri media perkembangan AI tak bisa dihindari dan penerbit dapat memposisikan AI sebagai rekan yang mempermudah pekerjaan. (*)
Editor : Faroq Zamzami