Meiji Zwageri Rasidi ternyata memang biang masalah. Sebelum membunuh, dia membawa kabur sepeda motor milik pamannya dari Kotabaru.
---
PEMUDA 20 tahun itu tercatat sebagai warga Jalan Sumber Alam RT 01 Desa Sebelimbingan, Kabupaten Kotabaru.
Tiga hari sebelumnya, pada tanggal 25 Desember, dia datang ke Banjarmasin. Niatnya menguangkan motor pamannya.
Berhari-hari berkeliling menawarkan motor itu, dia malah ditilang polisi di Jalan Lambung Mangkurat karena tak bisa menunjukkan dokumen kendaraan.
"Motornya ditahan petugas pas ia mengambil uang di ATM," kata Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Rachmat Hendrawan dalam rilis perkara kemarin (29/12).
Bingung hendak ke mana, Minggu (27/12) malam, pelaku memutuskan mencari penginapan untuk tidur.
Pilihannya jatuh pada Hotel Mira di Jalan Haryono MT. Di sana, ia membuka aplikasi WeChat untuk mencari perempuan yang bisa diajak kencan.
Pilihannya jatuh pada YA, 14 tahun, warga Jalan Kelayan A. Negosiasi itu tak lama, sebab Meiji menyanggupi Rp4 juta untuk servis selama dua malam.
"Kami sepakati harga, dia lalu menemui saya di hotel. Saya baru mengetahui hapenya itu milik pacarnya," kata Meiji.
Padahal, Meiji sedang bokek. Dia hanya menyerahkan Rp250 ribu sebagai uang muka.
Meiji dua kali dilayani oleh YA sampai puas. "Ketika saya coba meminjam uang, dia bilang saya pendusta, tukang bohong, penipu! Saya menjadi emosi," kisahnya.
"Saya pukul, dia berontak. Dari kamar tidur ia lari ke kamar mandi," tambahnya.
Meiji punya kebiasaan membawa palu multifungsi. Alasannya, buat menjaga diri ketika berada di luar rumah. "Buat jaga-jaga diri saja," ujarnya.
Palu itu pula yang ditusukkan ke pinggul YA. Tak cukup sampai di situ, YA juga dicekik. Bahkan mulutnya disumpal dengan keran shower sampai mati lemas. Benar-benar brutal.
Sementara itu, Kasat Reskrim AKP Alfian Tri Permadi menambahkan, penyelidikan akan dikembangkan ke jaringan prostitusi online di Banjarmasin.
Apalagi yang terkait anak di bawah umur. "Jika mengarah ke sana, kami tindak lanjut bersama unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak)," tegasnya.
Smartphone yang dipakai korban itu bakal menjadi petunjuk pertama. "Kekasihnya (si pemilik gawai) akan diperiksa. Karena ia memberikan akses kepada korban. Apa perannya dalam dugaan kasus prostitusi online ini," pungkas Alfian.
Tuntut Hukuman Setimpal
Mapolsek Banjarmasin Tengah didatangi enam anggota keluarga YA, kemarin (29/12) pagi. Mereka menuntut agar pelaku dihukum dengan seberat-beratnya.
Bahkan, mereka sangat ingin melihat secara langsung wajah si pembunuh.
"Saya mau melihatnya dengan mata sendiri," kata Tia, kakak YA.
Perempuan 21 tahun itu terus menangis, meratapi kematian tragis adiknya. Polisi sampai harus menenangkan Tia.
"Itu cucu kesayangan saya. Saya ingin memastikan, apakah benar pembunuh cucu saya ada di sini," tambah Misriah, nenek YA.
Mereka meminta agar aparat menjatuhkan hukuman yang setimpal. "Seadil-adilnya atas apa yang ia perbuat," tegasnya.
Sebelumnya, Senin (28/12) malam sekitar pukul 20.30 Wita, Meiji diringkus Resmob Polres Hulu Sungai Tengah.
"Sore itu, kami mendapatkan ciri-ciri pelaku dari kawan-kawan di Banjarmasin," kata Subbag Humas Polres HST, Aipda M Husaini.
Informasinya, setelah membunuh, Meiji memilih kabur menuju Hulu Sungai. Menaiki angkutan umum, taksi lintas kabupaten.
Anggota pun bergerak cepat. Berjaga di tiga titik. "Di Desa Pantai Hambawang, Desa Ilung dan Desa Kapar. Anggota sudah bersiaga sejak jam 6 sore," tambahnya.
Setiap taksi yang melintas dicegat dan diperiksa. Penjagaan berjam-jam itu membuahkan hasil di Desa Kapar. "Salah satu penumpang, memiliki ciri-ciri yang mirip," tukasnya.
Meiji sempat mengelak. Tapi hasil pencocokan identitas, membuat polisi yakin menggelandangnya ke mapolres. Malam itu pula, dari HST, tersangka dibawa pulang ke Polsek Banjarmasin Tengah. (lan/mal/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin