PANGKALAN BUN – Suasana di Jalan Bendahara, kawasan Pelabuhan Panglima Utar, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), sempat memanas pada Selasa malam akibat aksi perkelahian antar-sopir travel. Insiden yang menghebohkan warga sekitar ini diduga kuat dipicu oleh ketersinggungan akibat candaan yang dinilai melampaui batas saat para sopir sedang menunggu jadwal keberangkatan atau penumpang di pelabuhan.
Peristiwa ini bermula ketika sekelompok sopir travel asal Kumai tengah duduk santai sambil berbincang dan menikmati jamu. Di tengah suasana tenang tersebut, seorang sopir travel asal Flores, Kalimantan Barat, datang dan melontarkan candaan dengan cara menarik tangan salah satu sopir lokal. Tindakan tersebut rupanya direspons dengan ketidaksenangan oleh sopir yang bersangkutan hingga memicu ketegangan verbal.
Situasi semakin tidak terkendali saat sopir asal Kumai tersebut mencoba memastikan maksud dari candaan tersebut. Ketika ditanya mengenai keseriusan perlakuannya, sopir asal Flores tersebut menjawab dengan nada serius yang langsung menyulut emosi. Akibatnya, adu mulut tersebut dengan cepat berubah menjadi baku hantam di hadapan warga dan rekan-rekan sopir lainnya yang berada di lokasi kejadian.
Warga dan sopir lainnya yang menyaksikan keributan itu sempat panik dan segera melakukan upaya peleraian guna mencegah pertikaian meluas menjadi konflik antar-kelompok. Guna menghindari keributan susulan, kedua belah pihak yang bertikai langsung diamankan dan dibawa ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Kotawaringin Barat untuk menjalani pemeriksaan awal.
Meskipun sempat terjadi kekerasan fisik, kedua sopir tersebut akhirnya memilih untuk menempuh jalan kekeluargaan saat berada di kantor polisi. Mereka sepakat bahwa insiden tersebut hanyalah sebuah kesalahpahaman spontan dan menolak untuk membuat laporan kepolisian secara resmi. Proses mediasi tersebut berakhir dengan penandatanganan surat pernyataan damai, di mana kedua pihak berjanji untuk menjaga kondusivitas di lingkungan Pelabuhan Panglima Utar ke depannya.(*)
Editor : Indra Zakaria