BALIKPAPAN – Kasus dugaan pencabulan terhadap atlet usia dini di salah satu cabang olahraga (cabor) di Kota Balikpapan memasuki babak baru. Sejumlah orang tua atlet kini secara terang-terangan mendesak Ketua Cabor terkait untuk segera menanggalkan jabatannya. Tuntutan ini muncul menyusul dugaan keterlibatan putra kandung sang ketua, yang bertindak sebagai oknum pelatih, dalam aksi asusila tersebut.
Desakan ini dipicu oleh rasa trauma mendalam dan kekhawatiran para orang tua terhadap keselamatan anak-anak mereka. Mereka menilai adanya konflik kepentingan yang menghambat keadilan jika sang ayah tetap memimpin organisasi tersebut, sementara sang anak diduga menjadi predator bagi para atlet binaannya.
"Kami meminta Ketua Cabor mundur dari jabatannya demi kenyamanan dan keamanan anak-anak kami," tegas salah satu orang tua atlet yang meminta identitasnya dirahasiakan demi perlindungan korban.
Menurut keterangan para orang tua, tindakan bejat ini diduga telah berlangsung selama beberapa tahun dan mencapai puncaknya pada perhelatan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kaltim 2025. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang mental para atlet muda, tetapi juga mencoreng citra pembinaan olahraga prestasi di Balikpapan.
Dampaknya kian meluas, sejumlah atlet muda yang diproyeksikan mewakili Kota Balikpapan dalam ajang olahraga mendatang dikabarkan memilih untuk mengundurkan diri. Mereka menolak kembali ke lapangan jika lingkungan latihan masih berada di bawah bayang-bayang oknum pelatih dan pimpinan yang sama.
"Kami berencana mundur jika pelatih itu masih ada dan ayahnya tetap menjadi Ketua Cabor. Kami takut meninggalkan anak berlatih dalam kondisi yang tidak aman seperti ini," tambahnya.
Keresahan ini semakin menguat mengingat karakteristik seragam olahraga pada cabor tersebut yang cukup terbuka, sehingga orang tua merasa anak mereka sangat rentan jika pengawasan moral dari pihak pengurus lemah.
Sebelumnya, oknum pelatih tersebut dilaporkan melakukan pendekatan personal secara sistematis sebelum melakukan tindakan asusila. Parahnya, aksi tersebut diduga kuat didokumentasikan dalam bentuk video. Kini, publik Balikpapan mendesak adanya langkah tegas dari pihak berwenang dan organisasi olahraga terkait untuk memberikan sanksi berat serta menjamin perlindungan hukum bagi atlet usia dini di Bumi Etam.(*)
Editor : Indra Zakaria