SAMARINDA- Perburuan terhadap dua pria yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) terkait kasus perakitan 27 bom molotov di sekretariat Himpunan Mahasiswa Sejarah FKIP Universitas Mulawarman (Unmul) terus diintensifkan. Hingga kini, pihak kepolisian masih berupaya keras melacak keberadaan Andis dan Edy Susanto alias Kepet yang menghilang sejak peristiwa 1 September 2025 lalu.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, menegaskan bahwa personelnya tidak akan mengendorkan pengejaran terhadap kedua tersangka yang diduga memiliki peran vital tersebut. "Anggota kami masih bekerja di lapangan. Segala upaya terus dilakukan untuk menemukan dan mengamankan keduanya," ujar Hendri Umar.
Dalam proses pencarian ini, kepolisian menggabungkan metode konvensional dengan dukungan teknologi canggih guna mempersempit ruang gerak para buronan. "Pendekatan manual tetap kami jalankan, disertai pelacakan berbasis IT melalui pengembangan jaringan komunikasi hingga jejak digital yang berkaitan dengan lokasi persembunyian mereka," jelas Hendri lebih lanjut.
Pihak kepolisian juga tengah mendalami laporan masyarakat mengenai spekulasi keberadaan salah satu DPO, baik di wilayah Samarinda sendiri maupun yang sempat terdeteksi di Jakarta. Namun, Hendri menekankan pentingnya akurasi data sebelum melakukan tindakan penyergapan. "Kami akan mendalami setiap informasi melalui Satreskrim agar tidak terjadi kekeliruan di lapangan," tambahnya.
Kasus yang sempat menggemparkan warga Samarinda ini sebelumnya telah menyeret empat mahasiswa ke meja hijau sebagai tersangka. Namun, tertangkapnya Andis dan Kepet dianggap krusial untuk mengungkap konstruksi perkara secara utuh. Polisi pun mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika melihat sosok yang mencurigakan. "Informasi sekecil apa pun sangat membantu proses penegakan hukum ini," pungkasnya. (*)
Editor : Indra Zakaria