PROKAL.CO- Aksi keji seorang pria berinisial Batu (32) di Samarinda akhirnya terbongkar setelah bertahun-tahun tersimpan rapat. Pria ini tega melakukan pencabulan hingga kekerasan seksual terhadap anak kandungnya sendiri, Bunga (14, bukan nama sebenarnya). Kejahatan luar biasa ini terungkap usai korban yang tak sanggup lagi menahan penderitaannya memberanikan diri menceritakan perlakuan sang ayah kepada tantenya.
Pengakuan jujur korban langsung menyulut kemarahan besar pihak keluarga. Guna menghindari aksi main hakim sendiri, keluarga melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian pada Sabtu lalu. Petugas yang bergerak cepat lantas meringkus pelaku pada Selasa malam dan menggelandangnya ke Mapolresta Samarinda.
Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, mengonfirmasi bahwa pihak keluarga telah meminta pendampingan khusus mengingat kondisi psikologis korban yang amat terguncang.
"Korban curhat ke tantenya. Keluarga sempat emosi begitu tahu. Kami langsung turun mendampingi karena kondisi korban histeris dan ketakutan," kata Rina Zainun membeberkan kondisi awal korban.
Berdasarkan hasil pendampingan intensif, terungkap bahwa aksi bejat pelaku sudah berlangsung sejak korban masih duduk di bangku sekolah dasar saat berusia 8 tahun. Perbuatan haram tersebut dilakukan secara berulang kali hingga pelaku sendiri tak lagi mampu mengingat jumlahnya.
"Pencabulan dimulai saat korban berusia 8 tahun. Begitu menginjak 14 tahun, tindakannya makin mengarah ke kekerasan seksual. Terakhir terjadi sepekan lalu," beber Rina.
Pelaku diketahui kerap melancarkan aksinya saat suasana rumah dalam keadaan sepi. Tidak hanya di dalam rumah, aksi bejat tersebut juga nekat dilakukannya di luar, salah satunya di area semak-semak dengan modus berpura-pura meminta korban menemaninya berobat ke dokter.
Saat diinterogasi di Mapolresta Samarinda, dalih yang disampaikan pelaku justru kian memicu kemarahan. Pria tersebut mengaku tega menggauli darah dagingnya sendiri hanya karena korban dinilai terlalu dekat dan manja kepadanya.
"Waktu ditanya alasannya, pelaku cuma jawab karena anaknya terlalu dekat dan sering manja. Sangat tidak masuk akal," tegas Rina meluapkan kekecewaannya.
Kini, korban mengalami trauma mendalam dan menunjukkan gejala ketakutan fisik seperti sering gemetaran saat berinteraksi. Pihak penyidik bersama UPTD PPA dan TRC PPA Kaltim terus mendampingi proses visum medis sekaligus memberikan pemulihan trauma (trauma healing) intensif untuk memulihkan kondisi mental remaja tersebut. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co